ALAT ANGLUNG
M.Natsir
A. Latar Belakang
Alat musik angklung adalah alat musik multitional atau bernada ganda yang secara tradisional berkembang dalam masyrakat berbahasa sunda di pulau Jawa bagian barat. Alat musik angklung terbuat dari bambu yang dimainkan dengan cara digoyangkan, sehinga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2,3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran baik besar maupun kecil. Dalam laras atu nada alat musik angklung dalam tradisi Sunda ada dua yaitu salendro dan pelog. Selain itu juga alat musik angklung terdaftar sebagai karya agung warisan budaya lisan dan nonbendwi manusia di UNESCO sejak november 2010. dalam makalah ini juga akan mempelajari jenis atau macam-macam bambu untuk bahan pembuatan alat musik angklung, serta macam-macam nama angklung dan daerahnya, serta asal usul alat musik angklung tersebut. Dan fungsi atau kegunaan angklung di daerahnya masing-masing.Supaya para generasi penerus bangsa mengetahui dan mempelajari apa yang disebut angklung dan bagaimana bentuknya angklung tersebut. Serta mengajak para generasi penerus bangsa atau kaum muda untuk melestarikan alat-alat musik tradisional khususnya angklung.
B. Asal Usul Musik Angklung
Musik angklung pertama kali dimainkan anak-kana di Jawa Barat, yaitu diawal abad ke 20, diduga bentuk primitifnya telah digunkan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal pengenalan moderen. Sehinga angklung merupakan bagian dri relik prahinduisme dalam kebudayaan Nusantara.Cattan mengenai angklung pun muncul merunjak pada masa Kerajaan Sunda yaitu pada abad ke 12 sampai abad ke 16. Asal usul terciptanya musik bamboo, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyrakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi sebagai makan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan masyrakat Sunda terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang dewi padi pemberi kehidupan. Masyrakat Badui yang diangap sebagai sisa-sisa masyrakat sunda asli ini menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga Bogor adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun yang lampau. Kemunculannya ini berawal dari ritus padi. Kepercayaan masyrakat tersebut angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur, sera menghasilkan buah yang melimpah.
Jenis-jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat pembuatan musik angklung adalah: bambu hitam atu dalam bahasa Sundanya adalah awi wulung, dan bambu putih atau dalam bahasa Sundanya adalah awi temen. Pada dasarnya tiap nada atau laras, dapat dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk bilah atau wilahan, setiap ruas bambu di buat ukuran dari kecil hingga besar.
Pada masa kerajaan Sunda, angklung juga dikenal masyrakatnya sebagai penggugah semangat juang masyrakat Sunda dalam pertempuran melawan penjajahan Hindia Belanda. Selain itu fungsi angklung sebagai alat musik juga sebagai pemompa semangat untuk melawan penjajahan. Dalam perkembanganya pada saat itu, alat musik angklung berkembang dan menyebar ke Seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatra. Pada tahun 1908, tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand ditandai penyerahan angklung. Lalu permainan alat musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.
Pada tahun 1966 seorang tokoh angklung yang bernama Udjo Ngalagena, mengembangkan teknik permainan angklung berdasarkn laras-laras taau nada-nada antara lain pelog, selendro, dan madena. Beliau mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai kounitas.
C. Macam-Macam Angklung dan Nama Daerahnya
1. Angklung Kanekes
Angklung ini terdapat didaerah Kanekes a sering atau kita sering sebut mereka orang Baduy. Digunakan masyrakat Baduy, terutama karena hubungannya dengan ritus padi dan bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang saja. Angklung ini digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma atau lading. Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas atau dikurulungkeun, terutama di Kajeroan, dan ada yang dengan ritmis tertentu yaitu kaluaran. Meski pun demikian angklung bisa juga dimainkan di luar ritus padi; tetapi tetap mempunyai atruan misalnya hanya boleh ditabuh hinga masa ngubaran pare tau mengobati padi. Selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi pada tahun berikutnya. Menutup angklung Kanekes dilaksanakan dengan cara yang disebut musungkeun angklung yaitu nitipkeun atau menitipkan dan menyimpan angklung setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan.Mereka memainkan angklung di halaman luas di pedesaan. Sambil menyanyikan bermacam-macam lagu antara lain:Lutung kesarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Cuek Arileu, dn lain sebagainya. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu ada yang menari dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan oleh orang laki-laki.
Namn-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Di Kanekes orang-orang yang berhak dalam membuat angklung adalah: orang kajeroan terdiri dari tiga kampung yaitu Cibeo,Cikratawana dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang yang bisa membuatnya. Hanya yang punya keturun dan berhak saja mengerjakan yang penting ada syarat-syarat ritualnya.
Pembuat angklung di Cikeusik adalah pak Amir dan, di Cikratawana adalah pak Tarnah.
2. Angklung Dogdog Lojor
Kesenian angklung dogdog lojor terdapat di masyrakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar gunung Halimun yang berbatasan dengan Jakarta, Bogor, dan Lebak. Kesenian angklung ini dinamakan dodog lojor yaitu nama salah satu instrumennya. Tetapi di sana angklung juga digunakan untuk acara masyrakat ini untuk acara ritual padi. Acaranya di selengarakan setahun sekali, setelah panen. Seluruh masyrakat akan mengadakan acara serah taun atau seren taun di pusat kampong adapt. Tradisi penghormatan padi pada msyrakat ini masik dilaksanakan dan diiringi dengan alat musik kesenian yaitu angklung dogdog lojor. Karena mereka termaksud masyrakat yang memegang teguh adat lama mereka. Masyrakat Kasepuhan ini telah menganut agama islam dan agak terbuka akan pengaruh moderenisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi.
Hal ini berpengaruh pula dalam hal fungsi kesenian masyrakat tersebut yaitu angklung dodog lojor. Yang sekitr tahun 1970-an yang telah mengalami perkembangan yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah dua buah dogdog lojor dan empat buah angklung besar. Kempat buah angklung ini mempunyai nama yaitu: angklung yang terbesar dinamakan gongggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrument dimainkan oleh seseorang sehingga semuanya berjumlah enam orang. Lagu-lagu dogdog lojor diantaranya adalah bale agung, samping hideung, oleng-oleng dan lain sebagainya.
4. Angklung Gubrag
Angklung gurbag terdapat di kampung Cipinang kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan oleh masyrakat ini untuk menghormati dewi padi, dalam kegiatan menanam padi, mengangkut padi, dan menempatkan padi ke lumbung padi. Dalam mitosnya angklung gurbag mulai ada ketika suatu masa kampung cipinang mengalami musim paceklik.
5. Anklung Bedeng
Bedeng merupakan jenis kesenian yang menekan pada segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Angklung bedeng terdapat di Desa Sanding kecamatan Malangbong, Garut dulu alat musik ini digunakan sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Iislam. Tetapi diduga bedeng telah digunakan masyrkat Sanding sejak lama dari masa sebelum Islam, untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untk dakwah angklung bedeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke 16 atau 17. Pda masa itu penduduk Ssnding, Arapaen, dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak Mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebarannya adalah mengunakan alat musik kesenian angklung bedeng. Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah yaitu dua buah angklung roel, satu buah angklung kecer, empat buah angklung indung dan angklung bapa dan dua buh angklung anak. Lagu-lagunya adalah lailahaileloh, kasreng dan lin sebaginya.
6.Angklung padaeng
Angklung ini identik dengan angklung nasional dengan tenaga nada diatonis yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima ( salendro atau pelog ) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle pada tahun 1908-1984, di ubah nadanya menjadi tangga nada barat atau solmisasi, sehinga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangan angklung ini kemudian di ajarkannya kepada siswa-siswi sekolah dan dimainkan secara orkestra besar atau dimainkan secara bersama-sama.
7. Angklung Buncis
Angklung buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan diantaranya terdapat di Boras ( Arjasari, Bandung ). Pada mulanya angklung buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang angklung buncis digunakan sebagi seni hiburan. Hal ini berhubungan semakin berubahnya pandangan masyrakat yang mulai kurang mengindahkan berbau kepercayaan lama. Pada tahun 1940-an dapat diangap sebagai berakhirnya fungsi ritual pengunaan angklung buncis dalam penghormatan padi. Karena pada sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu pun tempat-tempat penyimpanan padi atau lumbung padi pun mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara ngujal atau membawa padi tidak diperlukan lagi.
Nama kesenian buncis adalah berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle. Sehingga kesenian ini dinamakan buncis. Instrument yang digunakan dalam kesenian buncis adalah dua buah angklung indung, dua buah angklung ambrug, angklung panempas dan tiga buah angklung dogdog lojor. Angklung buncis berlaras atau bernada salendro dengan lagu vocal biasa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagunya adalah badud buncis, renggong, senggot dan lain sebagainya. Sekarang lagu-lagu angklung buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi tadinya laki-laki, kini diganti oleh wanita.
8. Angklung pentationis
Angklung pentationis dalah alat musik kesenian tradisional yang berasal dari masyrakat sunda dan di daerah lainnya di Indonesia. Dan dimainkan dengan lima nada tradisional, sehinga disebut pentationis atau lima nada, antara lain yaitu pelog, selendro, dan madenda.
9. Angklung Padeang
Angklung padeang di sebut juga angklung diatonis, karena bertangga nada diatonis kormatis. Bapak angklung padeang adalah Diatonis Daeng Sutigna. Jumlah nada angklung ini tujuh buah seperti halnya alat musik dunia lain misalkan piano, organ, dan biola. Dalm angklung ini ada dua jenis yaitu angklung melodi dan angklung accompagenement. Angklung melodi mewakili satu nada, angklung accompagenement mewakili satu akord.
D. Cara Memegang dan Memainkan Angklung
Seperti pada umumnya alat musik angklung dimainkan dan dipegang dengan cara digetarkan atau digoyangkan. Untuk menghasilkan bunyi yang lebih baik, ada beberapa teknik yang diterapkan sebagai berikut:
1. Tangan kiri bertugas memegang angklung dan tangan kanan bertugas menggetarkan angklung.
2. Tangan kiri dapat memegang angklung dengan cara memegang simpul pertemuan dua tiang angklung vertikal dan horizontal yang berada ditengah, sehingga angklung dipegang tepat ditengah-tengah. Hal ini dapat dilakukan baik dengan gengaman tangan, dengan telapak tangn menghadap ke atas atau pun menghadap ke bawah.
3. Posisi angklung yang dipegang sebaiknya tegak, sejajar dengan tubuh, dengan jarak angklung dari tubuh cukup jauh dengan siku-siku tangan kiri hamper lurus. Fungsinya agar angklung dapat digetarkan dengan baik dan maksimal.
4. Tangan kanan selanjutnya memegang ujung tabung dasar angklung (horisontal) dan siap mengetarkan angklung.
Untuk pemain yang memegang lebih dari satu angklung, dapat dilakukan dengan cara yaitu angklung yang ukurannya lebih besar dipegang tangan kiri pad posisi yang lebih dekat ke tubuh. Baik dengan cara dimasukkan kedalam lengan
( jika angklung melodi besar atau yang masuk ke dalam lengan pemain). Di posisi lengan bawah dimasukkan ke dalam jari tangan kiri sehingga angklung sisanya dapat di pegang juga oleh jari tangan kiri lainnya. Dan masing-masing angklung dapat dimainkan dengan smpurna dan baik.
E. Angklung dan Dinamikanya
Pada saat sekarang ini jika kita mendengar kata angklung, maka yang terbayang dalam benak kita adalah alunan musik yang berasal dari bambu yang memainkan lagu-lagu secara amat sederhana, tradisional, dan mungkin berkesan konvensional. Fenomena ini sama sekali tidak dapat dipersalahkan mengingat bahwa hingga saat ini lagu-lagu angklung tradisional tetap dipertahankan karena akar dari musik angklung adalah musik daerah yang secara tradisional. Musik angklung pun tidak mengenal adanya segmentasi, karena golongan apa pun, dan usia berapa pun tanpa terkecuali dapat memainkannya. Karena angklung dibuat secara sederhana dan dapat dimainkan dengan mudah. Jika mempehatikan akan hal-hal tersebut sangatlah disayangkan jika musik tradisional angklung ini tidak mendapatkan perhatian yang layak, serta tidak mendapatkan tempat sebagaimana mestinya. Apa lagi kita semua mengetahui bahwa angklung sudah dikenal di dunia Internasional.
Adapun identifikasi masalah dalam musik angklung pada saat sekarang ini karena dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada masa sekarang ini, tentu saja tidak mungkin terlepas dari situasi dan kondisi yang tengah terjadi pada saat ini. Dari berbagai kelebihan yang ada bahwa musik tradisional angklung ini sedikitnya memiliki kelemahan yang dapat diidentifikasi yaitu sebagai berikut:
1. Belum adanya wadah atau forum komunikasi yang secara rutin untuk dapat mempertemukan grup angklung yang ada pad saat ini. Kecuali ajang festival atau konser. Sehingga belum ada kesamaan persepsi mengenai standarisasi teknik, kualitas, aransemen dan lain sebagainya.
2. Belum adanya standardisasi untuk manajemen organisasi angklung. Di satu pihak ada tim dengan penataan organisasi yang sudah menjurus kearah profsional dengan struktur organisasi, serta dukungan dana yang baik. Sementara dipihak lain ada grup yang sengaja dibentuk secara dadakan. Dan pembentukannya hanya karena diikut sertakan dalam ajang festival saja, atau bukan merupakan kegiatan rutin dan organisasi formal.
Dengan kata lain belum ada satu pemahaman bahwa angklung pun perlu ada Penataan manajemen secara sistematis.
3. Belum ada standarisasi honorarium yang layak bagi seorang pelatih dan grup angklung secara utuh dalam arti sejauh mana para aktor angklung, dapat diukur atau dihargai secara materi yang memadai.
Jika masalah-masalah tersebut tidak ditangani secara dini maka dimasa yang akan datang grup-grup angklung yang ada akan sulit berkembang secara bersama. Atau mungkin hanya berkembang secara individual. Pembenahan kondisi internal memang harus segera mungkin diantisipasi. Mengingat bahwa bukan tidak mungkin akar permasalahannya yang biasa muncul dari sini.
Sebenarnya grup angklung yang ada pada saat ini sudah cukup marak. Tidak hanya di tingkat sekolah tetapi juga sudah merambah ketingkat perguruan tinggi. Namun demikian, karena tersebar di berbagai daerah, sehingga yang perkembangan musik angklung yang terjadi di kota Bandung belum tentu dapat diikuti oleh daerah-daerah lain, diluar kota bandung. Kendalanya adalah sulitnya pengawasan dan informasi. Sehingga kerap terjadi kesalahan persepsi, meskipun sifatnya sangat mendasar.Selanjutnya adalah faktor kesempatan untuk menguji kemampuan. Bukan tidak mungkin pula, kelak dalam kesempatan untuk tampil pada acara-acara terhormat. Hanya akan diapat oleh grup yang sudah memiliki reputasi dan sudah mapan saja. Sedangkan grup yang lainnya akan sulit untuk mendapatkan kesempatan serupa. Kecuali jika berbentuk pementasan angklung masal. Dengan demikian kesempatan untuk mengasah kemampuan bagi grup lainnya akan sangat minim. Dan akhirnya terjadi pula kesenjangan kualitas, didasari atau tidak, hal ini sudah mulai terjadi. Kemudian dukungan dari berbagai pihk akan sangat kita butuhkan untuk mempelancar langkah dalam mencapai tujuan. Akan lebih baik lagi jika bantuan itu datangnya dari media cetak maupun media elektronik yang bersedia menayangkan secara regular dan berotasi tanpa mengurangi segi komersialnya.
Angklung adalah salah satu musik tradisional yang ada di Indonesia. Dalam memajukan musik angklung tidak semudah kita menjual karcis sepak bola atau pertunjukan musik-musik lainnya. Karena pengemarnya terbatas dan tingkat apresiasi masyrakat terhadap musik angklung pun belum terlalu menggembirakan. Terlalu banyak kendala-kendala yang dihadapi jika pengelolanya tidak memiliki kapasitas sebagai seorang idealis yang baik, maka jangan harap dalam perkembamgan musik angklung sulit dicapai pada saat sekarang ini. Oleh sebab itu dalam memajukan perkembangan musik angklung sangat diperlukan adanya kerjasama antara masyrakat dan pemerintah.
B. Kesimpulan
Eksitensi musik angklung dimasa yang akan datang, akan sangat bergantung pada kerjasama dan kesungguhan kita dalam mengelolanya dengan penuh perhatian dan kejujuran. Tanpa adanya hipokrasi serta maksud-maksud untuk membela kepentingan kelompok tertentu atau hal-hal yang mengarah pada primordialisme. Dalam berbagai hal, bahwa jika ada kelompok kepentingan yang bendominasi suatu perkumpulan maka bisa jadi bumerang bagi perkumpulan bagi perkumpulan tersebut. Sebab kesalahan sedikit saja akan dapat memperbesar kesalahan yang telah ada. Dan mungkin akan semangkin menghambat kemajuan musik angklung ini. Jika sudah demikian adanya maka segala idealisme yang muncul selama ini hanya hanya akan sia-sia belaka.
DAFTAR PUSTAKA
Awi. 2007. Angklung Web Institute. ( online ). ( diakses 22 Januari 2011 )
www. 2007. Angklung. wikib pedia. Org./ wiki. ( online ). ( diakses 23 Januarai 2011 )
www. 2008. Indonesian musik. Com/…/ bamboo/.htm. ( online ). ( diakses 23 Januari 2011 ).
Minggu, 13 Maret 2011
Robo-Robo Multikultur Kalbar
TRADISI ROBO-ROBO MULTIKULTUR
MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT
Oleh. Hamidah,Spd
ABSTRACT
Robo' tradition-Robo ', Cross Multicultural On Earth Equator.Potential culture in Indonesia resulted in a heterogeneous society. Indonesia as a country that stands on cultural diversity multiculturalism berdemensi on nation-building. With multiculturalism is the principle of "Unity in Diversity" as shown in the basic state will be realized. In this globalization era, there is generally still we find people who still adhere to cultural traditions and customs of the region. Ritual is part of an ethnic identity that contains the values, norms, and expressive symbols as a social bond that acts as areinforcement of social bonds of solidarity and social cohesiveness of local communities. Arrival of King Mempawah, Opu Daeng Manambon from South Sulawesi in the 17th century tradition enshrined in Robo'-Robo '. Sacred ritual that is often done is a manifestation of gratitude for the gifts given and at once begged safety, it is still going on continuously for the supporters. Robo' tradition-Robo 'itself is on the agenda of Culture and Tourism of West Kalimantan. Cultural values that can be dug through Tradition Robo'-Robo ', Social values one of which is the social value that can be made a reference in Multicultural Cross Describes the cultural values that can be dug through Tradition Robo'-Robo'. . uniqueness which can be seen from the tradition Robo'-Robo '. shows how wonderful of togetherness, to give a direction to all elementsofsocietyto form a harmony. In this section, raised some understanding of the contents of the discussion of tradition Robo'-Robo 'that can be used to explore the relationship between cultural values and social values.Activities carried out in several areas in West Kalimantan, among others, in Mempawah, Pontianak District, in the district of Kubu Raya Kakap District, West Kalimantan and Ketapang.Event-robo Robo didisi also with other activities, such as canoe races, games tops, Lamba kasidah, dining and entertainment masyarakat.Acara saprah culture containing the history of the arrival of Opu Daeng Menambon to Mempawah, containing moral values very high, such as the creation of a sense of unity between the king with his subjects, and subordinate officials, the rich with the poor and others, as proposed Mardan Adijaya, through eating together called saprah eat, all the complicated issues Insha Allah be easy to solve. indirectly created a fabric of communication between eachother.
Keywords: Traditional Robo'-Robo ', Multicultural, Equator
Tradisi Robo’-Robo’, Lintas Multikultural Di Bumi Khatulistiwa. Potensi kebudayaan di Indonesia menghasilkan sebuah masyarakat yang heterogen. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman budaya yang berdemensi pada multikulturalisme pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud. Pada zaman globalisasi ini, umumnya masih ada kita temukan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat kebudayaan daerahnya. Upacara adat adalah bagian dari identitas suatu suku yang mengandung nilai-nilai, norma, dan simbol-simbol ekspresif sebagai sebuah ikatan sosial yang berperan sebagai penguat ikatan solidaritas sosial dan kohesivitas sosial masyarakat lokal.
Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya. Tradisi Robo’-Robo’ sendiri merupakan agenda Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat. Nilai-nilai budaya yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’ , Nilai-nilai sosial salah satunya nilai sosial adalah yang dapat di jadikan acuan dalam Lintas Multikultural Mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’.. keunikan yang dapat dilihat dari tradisi Robo’-Robo’. memperlihatkan betapa indahnya kebersamaan, memberikan suatu arahan kepada seluruh elemen masyarakat untuk membentuk suatu keharmonisan.Pada bagian ini dikemukakan beberapa pengertian dari isi pembahasan mengenai Tradisi Robo’-Robo’ yang dapat dipergunakan untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kegiatan dilaksanakan dibeberapa wilayah di Kalimantan Barat antara lain di Mempawah, Kabupaten Pontianak, di kecamatan Kakap Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Acara Robo-robo juga didisi dengan kegiatan lainnya,seperti lomba sampan,permainan gasing,lamba kasidah, makan saprah dan hiburan masyarakat.Acara budaya yang mengandung sejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, mengandung nilai-nilai moral yang amat tinggi, seperti terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya,seperti yang dikemukakan Mardan Adijaya, melalui makan bersama yang disebut makan saprah, semua persoalan yang rumit Insya Allah menjadi mudah untuk dipecahkan. secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi antara satu dengan yang lainnya.
Kata Kunci : Tradisi Robo’-Robo’, Multikultural, Khatulistiwa
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan negara yang memiliki seribu kemajemukan budaya pariwisata. Potensi kebudayaan didalamnya menghasilkan sebuah masyarakat yang heterogen. Hal ini membuat banyak perbedaan budaya serta keberagaman yang menghasilkan suatu multikultural. Multikulturalisme mempunyai peran yang besar dalam pembangunan bangsa. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman kebudayaan meniscayakan pentingnya multikulturalisme dalam pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi inspirasi dan potensi bagi pembangunan bangsa sehingga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat tercapai.
Pada zaman globalisasi ini, umumnya masih ada kita temukan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat kebudayaan daerahnya dan hal itu menjadikan suatu kebiasaan yang harus dilaksanakan, apalagi tradisi kebudayaan tersebut bersifat sakral.Tradisi dan budaya merupakan beberapa hal yang menjadi sumber dari akhlak dan budi pekerti. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya orang tersebut telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada pada dirinya.
Upacara adat adalah bagian dari identitas suatu suku yang mengandung nilai-nilai, norma, dan simbol-simbol ekspresif sebagai sebuah ikatan sosial yang berperan sebagai penguat ikatan solidaritas sosial dan kohesivitas sosial masyarakat lokal. Identitas adalah harga diri dan sekaligus merupakan “perisai” untuk menghadapi tekanan dan pengaruh kekuatan sosial budaya dari luar. Identitas budaya suatu kelompok sosial berakar pada entitas kultural yang dapat digali dalam domain-domain budaya seperti mitos, religi, bahasa, dan ideologi. Adat istiadat adalah merupakan sebuah wujud dari rasa daya cipta suatu bangsa begitu juga adat budaya yang masih tetap ada di wilayah Kalimantan Barat sebagai sebuah wilayah yang cukup luas yang ada di Indonesia, diantara provinsi Kalimantan Barat meliputi beberapa kabupaten yang mempunyai adat istiadat yang multikultural, dan masih tetap eksis mempertahankan adat istiadat masyarakatnya.
Kalimantan Barat juga memiliki beragam budaya dan tradisi yang berasal dari banyak suku, diantaranya: Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, dan masih banyak lagi. Ciri khas dari masing-masing kebudayaan menjadikan suatu keunikan tersendiri bagi daerah. Salah satunya suku Bugis Kalimantan Barat yang identik dengan Melayu. Suku Bugis ini memiliki banyak sekali tradisi yang masih kental yang juga bersifat sakral. Seperti tradisi Robo’-Robo’ yang dikenal sebagai tradisi yang memperingati hari datangnya seseorang dari tanah bugis Sulawesi Selatan pada tahun 1637. Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Bone, Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya. Tradisi Robo’-Robo’ sendiri merupakan agenda Visit Kalbar 2010 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat (Gaya Hidup, 2010).
Akhir-akhir ini, intensitas dan ekstensitas konflik di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Terutama konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat, meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal, yakni antara masyarakat dan daerah. Hanya saja, persoalannya menjadi lain jika konflik sosial yang berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang positif, tetapi berubah menjadi destruktif bahkan anarkis. Oleh sebab itu, maka tradisi Robo’-Robo’ ini dapat menjadikan suatu alat untuk mengurangi konflik yang berkaitan dengan multikultural. Hal ini akan dijelaskan dengan beberapa pertanyaan dalam penyusunan tulis ini.Nilai-nilai budaya apa sajakah yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’ ?Nilai-nilai sosial apa sajakah yang dapat di jadikan acuan dalam Lintas Multikultural ?
Pada bagian ini dikemukakan beberapa pengertian dari isi pembahasan mengenai Tradisi Robo’-Robo’ yang dapat dipergunakan untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kerangka teori sendiri, memiliki peran penting dalam penelitian agar dapat menemukan hasil secara maksimal. Kesalahan dalam memilih teori seringkali akan berpengaruh terhadao hasil yang akan ditemukan kemudian.
B. Latar Belakang Kalimantan Barat
Kalimantan Barat adalah satu di antara provinsi di tanah air yang sedang berupaya membangun dalam mencapai cita-cita demi kesejahteraan masyarakatnya. Wilayah ini membentang lurus dari utara ke selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari barat ke timur, dengan luas wilayah 146.807 km (7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas Pulau Jawa) dan menjadi Provinsi terluas keempat setelah Irian, Kaltim dan Kalteng. Keunikan tersendiri dari Kalimantan Barat yaitu adanya Tugu Khatulistiwa. Tugu Khatulistiwa merupakan ikon Kota Pontianak yang memiliki tinggi 15,25 m. Tugu Khatulistiwa yang terlihat sekarang dibuat tahun 1990, Tugu Khatulistiwa ini terletak di garis khatulistiwa yang membelah Bumi menjadi dua bagian, Utara dan Selatan.Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman. Walaupun sebagian kecil wilayah Kaimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau, Sumatera.
Beberapa motto pembangunan diluncurkan oleh Mantan Gubernur Kalbar H. Usman Ja'far Periode 2003 - 2008 adalah “Harmonis dalam Etnis, Maju dalam Usaha, dan Tertib dalam Pemerintahan”. Harmonis dalam etnis adalah sebuah keselarasan seluruh komponen masyarakat Kalbar untuk hidup berdampingan, saling menunjang dan berkiprah positif dalam membangun dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara secara harmonis, rukun, tertib, dan aman dalam kerangka mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan julukan seribu sungai Kalimantan Barat memanfaatkan sebagai tempat untuk bertransaksi, transportasi bahkan berbudaya serta tradisi. Seperti pada tradisi Robo’-Robo’, yang memanfaatkan sungai terutama sungai Kapuas untuk dijadikan salah satu tempat upacara
lam ritual tersebut. Agenda perayaan Robo’-Robo’ yang diperingati setiap Rabu akhir bulan Safar itu menggelar ritual penyambutan di Kuala Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, oleh para prajurit kerajaan. Kemudian dilanjutkan ritual buang-buang sesaji ke laut atau sungai sebagai tolak bala akan tetapi kegiatan buang-buang sesaji yang berarti member makan penjaga laut sudah tidak dilakukan lagi. Upacara inilah yang memanfaatkan perairan di Kalimantan Barat. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Kamaruzzaman, menambahkan Perayaan Robo-robo telah diagendakan dalam Visit Kalbar 2010 dan masuk agenda wisata Indonesia menuju wisata internasional.
C. Asal-Usul Tradisi Robo’-Robo’
Kesultanan Mempawah kini berbeda dengan ketika Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri. Sekitar tahun 1610 M, Mempawah kembali bangkit. Tampil sebagai pemimpin baru adalah Panembahan Kudong/Kudung atau juga disebut Panembahan Yang Tidak Berpusat. Raja Kudong memindahkan pusat ibu kota Mempawah ke Pekana (Karangan). Setelah Raja Kudong meninggal pada tahun 1680 M, tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Panembahan Senggauk. Panembahan Senggau menikah dengan putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri Sumatra, yang bernama Putri Cermin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mas Indrawati. Ketika usia Mas Indrawati telah beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan Panembahan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari hasil perkawinan ini, lahirlah seorang putri cantik bernama Putri Kesumba. Ketika dewasa, Putri Kesumba dinikahkan dengan Opu Daeng Menambun.
Awal diperingatinya Robo’-Robo’ ini sendiri, bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi. Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.
Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.
Terharu, karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.
Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan na’as dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur. Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robo’-Robo’. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H. Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya.
Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.
Kesultanan Mempawah kini berbeda dengan ketika Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri. Sekitar tahun 1610 M, Mempawah kembali bangkit. Tampil sebagai pemimpin baru adalah Panembahan Kudong/Kudung atau juga disebut Panembahan Yang Tidak Berpusat. Raja Kudong memindahkan pusat ibu kota Mempawah ke Pekana (Karangan).
2.3. Gambar 4. Foto Saudara Opu Daeng Manambon
Setelah Raja Kudong meninggal pada tahun 1680 M, tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Panembahan Senggauk. Pada masa pemerintahan ini, pusat ibu kota dipindahkan dari Pekana ke Senggauk, hulu Sungai Mempawah. Panembahan Senggauk menikah dengan putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri Sumatra, yang bernama Putri Cermin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mas Indrawati. Ketika usia Mas Indrawati telah beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan Panembahan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari hasil perkawinan ini, lahirlah seorang putri cantik bernama Putri Kesumba. Ketika dewasa, Putri Kesumba dinikahkan dengan Opu Daeng Menambun.Sebagai informasi, Opu Daeng Menambun merupakan keturunan (cucu) dari Raja La Madusalat yang memerintah Kerajaan Luwu (kini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan) pada awal abad ke-18. Raja La Madusalat memiliki tiga putra, yaitu:
• Pajung (pernah memerintah di Kerajaan Luwuk).
• Opu Daeng (pernah menjadi pemimpin Suku Bugis di Betawi).
• Opu Daeng Rilekke, yang dikenal sebagai pelaut pemberani dan suka mengembara ke berbagai daerah dengan mengikutsertakan putra-putrinya. Ia mempunyai lima orang anak, yaitu: Opu Daeng Kemasih, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Celak, dan Opu Daeng Melewa.
Dengan demikian, Opu Daeng Menambun sebenarnya bukan orang Kalimantan asli, namun sebagai perantau dari Sulawesi Selatan dan keturunan Suku Bugis. Sejak dulu keturunan La Madusalat dikenal sebagai pelaut-pelaut yang sangat ulung dan pemberani. Mereka merantau ke berbagai penjuru Nusantara dengan mengarungi laut-laut yang begitu luas, dengan tujuan Banjarmasin, Betawi, Johor, Riau, Semenanjung Melayu, hingga akhirnya tiba di Tanjungpura (Matan).
Setelah bertahun-tahun menetap di Matan, Opu Daeng Menambun beserta keluarganya pindah ke Mempawah. Ketika Panembahan Senggauk meninggal pada tahun 1740 M, Opu Daeng Menambun naik tahta kekuasaan Mempawah dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara. Opu Daeng Menambun memindahkan pusat kerajaan ke Sebukit Rama (kira-kira 10 km) dari Kota Mempawah.Masa pemerintahan Opu Daeng Menambun merupakan masa di mana Kesultanan Mempawah Islam mulai berdiri dan kemudian berkembang. Pada masanya, penduduk Mempawah dikenal sebagai penganut Islam yang sangat taat. Opu Daeng Menambun sendiri dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan lebih mementingkan musyawarah dalam memutuskan berbagai kebijakan kesultanan.
Habib Husein Alkadrie, ulama terkenal asal Kalimantan Barat, pernah pindah dari Matan ke Mempawah. Salah seorang putri Opu Daeng Menambun, Utin Candramidi dinikahkan dengan Sultan Syarif Abdurrahman (Sultan I di Kesultanan Kadriah), putra Habib Husein Alkadrie.Ritual ini bersifat historis karena upacara ini dikaitkan dengan peristiwa penting dalam kehidupan kerajaan mempawah. Antara lain, pendaratan pertama Opu Daeng Manambon, putra bugis pendiri kerajaan mempawah dan kematian beliau sebagai panembahan pertama kerajaan itu. Dapat pula dikatakan bersifat religius karena terdapat ibadah bagi orang Islam yaitu permohonan do’a kepada Allah SWT agar seluruh warga masyarakat diselamatkan dari bala’ bencana yang dapat menimpa sewaktu-waktu.Dikategorikan bersifat magis karena upacara ini bersifat memberi persembahan dan permintaan ampun dari manusia-manusia kepada para leluhur, khusunya arwah para Panembahan Mempawah dan makhluk-makhluk halus yang dipercayai mempunyai kelebihan dari manusia. Dari para leluhur dan makhluk-makhluk halus itu diharapkan dapat memberikan pertolongan pada manusia untuk melindungi dari bala bencana yang akan menimpa.
Selain itu, acara tambahan pihak panitia juga menggelar kirab benda-benda pusaka Kerajaan Amantubillah, setelah itu benda yang telah diarak keliling Kota Mempawah menjalani ritual pembersihan di Keraton Amantubillah. Panitia pun telah mengundang semua keraton yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura untuk menghadiri perayaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk sekaligus menjalin tali persaudaraan dengan Negara tetangga melalui sebuah tradisi yang identik dengan budaya mereka.Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan, saat ini saja masyarakat sudah merasakan nilai tambah dari adanya tradisi Robo’-robo’. Karena secara ekonomi, jumlah wisatawan lokal yang datang untuk melihat tradisi Robo’-robo’ telah melakukan transaksi jual beli.
Menurut Gubernur Kalbar Cornelis, kondisi ini adalah suatu kenyataan yang terjadi dinegara-negara besar yang notabene mengandalkan kunjungan wisata sebagai suatu sumber penghasilan negaranya sehingga jika ada kemasan yang lebih menarik untuk melestarikan dan menjual objek wisata budaya Robo’-Robo’ ini, maka buka tidak mungkin jika ekonomi kerakyatan di Kabupaten Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya dapat terkena imbas dari adanya ini. (Kurnia Santosa :: RRI)
A. Analisis Nilai-Nilai Budaya yang dapat di Gali melalui Tradisi Robo’-Robo’
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil dari beberapa kegiatan-kegiatan tradisi Robo’-Robo’. Dalam kegiatan tradisi Robo’-Robo’ terdapat banyak sekali runtutan-runtutan acara yang banyak mengandung nilai-nilai budaya. Hiburan yang berupa tarian Angin Mamiri dari Tanah Bugis ataupun yang berbau khas lainnya yang menjadi khas suatu acara kebudayaan turut mengisi salah satu acara.
Selain itu, dalam hal ini juga terdapat banyak tempat yang dipergunakan untuk penyelenggaraan upacara sejak hari Selasa sampai pada siang hari Rabunya. Tempat-tempat tersebut adalah :
1. Makam Opu Daeng Manambom di sebukit Rama.
2. Makam Para Panembahan Mempawah di Pulau Pedalaman agak hulu dari Kuala Mempawah.
3. Didaerah pantai yang dikenal oleh penduduk Mempawah sebagai tempat pendaratan pertama dari Armada Opu Daeng Manambon.
4. Didalam setiap gang di Kota Mempawah.
5. Di Kuala Mempawah mulai dari jembatan induk sampai daerah pantai.
Upacara ziarah kubur diselenggarakan pada hari Selasa terakhir bulan Syafar. Pada malam Rabu diselenggarakan acara masak-masak diperkampungan tempat pendaratan pertama Opu Daeng Manambon ketika membangun Mempawah menjadi sebuah perkampungan. Pada malam itu juga diselenggarakan upacara-upacara persembahan sesajian untuk para penjaga air.
Hari Rabu pada pagi harinya selesai sholat shubuh diselenggarakan upacara kenduri oleh setiap kelompok masyarakat, khususnya masyarakat di Kota Mempawah. Upacara hari Rabu itu kemudian dilanjutkan pada siang harinya berupa perlombaan sampan di Kuala Mempawah.
Untuk pihak-pihak yang terlibat dalam upacara, hampir seluruh warga masyarakat di wilayah Kabupaten Pontianak khususnya suku Bugis dan Melayu merasa turut terlibat dalam penyelenggaraan upacara Robo’-Robo’. Penduduk dalam kota ikut aktif menyelenggarakan upacara baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Yang tidak ikut aktif dalam kegiatan upacara keterlibatan mereka adalah dalam hal turut serta meramaikannya, terutama anak-anak muda laki-laki atau wanita mengambil kesempatan dalam acara ini untuk bersuka ria di tempat-tempat hiburan.Dikalangan keluarga bangsawan keterlibatan dalam upacara ini ialah dalam melakukan ziarah makam para panembahan baik panembahan Opu Daeng Manambon atau panembahan-panembahan yang lainnya.
Dilingkungan istana pada hari Selasa, keluarga kerajaan dan masyarakat sudah berkumpul untuk bersama-sama menuju bukit guna menziarahi makam para panembahan. Sebelumnya telah dipersiapkan alat-alat perlengkapan upacara yang akan dibawa ke makam, terutama sesajian, air tolak bala, kendaraan air dan makanan, sementara panitia menyiapkan alat-alat untuk keperluan ziarah.
1. Upacara Ziarah
Opu Daeng Menambon wafat pada hari Senin tahun 1761 dan dikebumikan pada hari Selasa akhir bulan Syafar. Maka, pada hari Selasa terakhir bulan Syafar, keluarga istana berkumpul di istana begitu juga dengan para pejabat pemerintah dan panitia penyelenggaraan Robo’-Robo’ serta warga masyarakat ikut serta dalam acara ziarah itu. Pukul 07.00 pagi rombongan sudah mulai berangkat menuju Sebukit Rama, makam para panembahan Mempawah. Sekitar pukul 10.00 siang hari upacara ziarah kubur itu baru akan dimulai.
Dalam perjalanan tidak ada upacara apa-apa, juga tidak disertai dengan bunyi-bunyian sampai ditempat yang dituju, rombongan peziarah harus mendaki bukit (Sebukit Rama) untuk mencapai lokasi makam. Jumlah anak tangga dari yang terbawah sampai yang teratas kurang lebih 250 buah. Rombongan penziarah yang datang satu persatu memasuki ruang makam dengan merapatkan saf-saf duduk berhimpitan. Prosesi upacara dimulai dengan penaburan beras kuning dan bertih oleh pemimpin upacara ke atas makam/nisan Opu Daeng Manambun diiringi dengan doa. Peralatan sesajian yang telah disiapkan diletakan pada bagian Barat nisan ditengah-tengah peserta.
Adapun sesajian yang dipergunakan di dalam lokasi makam antara lain :
1. Sesajian tersebut berupa nasi kuning yang membentuk kerucut
2. Dibagian atas diletakan sebuah telur ayam rebus.
3. Nasi dengan seekor panggang ayam,
4. Bertih
5. Beras kuning satu mangkuk
6. Sepiring katupat
7. Sisir
8. Pisang masak di dalam piring
9. Setanggi (dupa)
Prosesi selanjutnya pemimpin upacara membakar setanggi, diiringi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, berzikir dan berdoa dilakukan upacara tabur bunga ke atas makam Opu Daeng Manambun oleh para kaum kerabat istana yang diikuti oleh masyarakat lainnya. Rombongan pertama telah selesai melakukan upacara dan rombongan kedua memasuki bangsal tempat Opu Daeng Manambon. Upacara dimulai dengan pemimpin juru kunci makam untuk memulai membaca do’a-do’a dengan tujuan memperoleh keselamatan. Maka, selesailah upacara ziarahan dan semua peserta beristirahat diluar makam ditangga atau ditepian sungai untuk makan-makanan yang dibawa masing-masing.
2. Upacara Kenduri
Dalam tradisi ini dimulai dengan Raja, Ratu Mempawah, putra-putrinya serta punggawa dan pengawal berangkat dari Desa Benteng, Mempawah, menggunakan perahu bidar, yakni perahu kerajaan dari Istana Amantubillah. Kapal tersebut berlayar menuju muara Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Di muara sungai akan dilakukan semacam upacara "penyambutan" ke laut seperti ketika Opu Daeng Menambon tiba di muara sungai tersebut untuk pertama kalinya.
3. Upacara Mandi Safar
Pada pagi harinya penduduk minum atau mandi dengan air tolak bala atau Salamun Tujuh, hal ini disebut juga Upacara Mandi Safar. Upacara Mandi Safar yang dilakukan pada bulan Safar, umumnya dilakukan di muara sungai maupun di gang-gang yang mempunyai parit-parit kecil dan juga di dalam rumah. Keluarga besar di dalam sebuah perkampungan yang masih mempunyai adat istiadat yang kuat, jika tidak melakukannya pada tempat terbuka maka melakukannya di dalam atau pada tempat yang tertutup. Pada umumnya, air yang disediakan adalah air khusus yang sudah dibacakan oleh tetua kampung.
1.5. Gambar 8. Seorang Tetua Kampung Sedang Menulis Ayat Al-Qur’an
pada Daun Juang-Juang.
Ritual mandi Safar dengan maksud untuk menolak bala bencana, yang menimpa dan menjadi sebuah keyakinan masyarakat bahwa akan membawa kesialan bagi anggota badan jika tidak dibersihkan pada bulan tersebut karena banyaknya dosa-dosa yang ada di dalam tubuh manusia. Bala bencana berupa siksaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, keyakinan akan hal ini dapat terhindar jika dengan sungguh-sungguh memohon ampun dengan wujud mandi di sungai, semua dosa-dosa akan gugur mengikuti aliran air yang mengalir.Ritual mandi Safar seperti menjadi suatu kewajiban yang diwariskan oleh nenek moyang pada wilayah tertentu secara geografis yang umumnya dilakukan oleh masyakat yang tinggal di daerah perairan serta pantai sepanjang pesisir wilayah Kabupaten Pontianak dan Kalimantan Barat secara umumnya. Upacara yang dilakukan secara turun-menurun tidak berani dilanggar oleh keturunan kerajaan, dan masih tetap dilaksanakan yang dikhawatirkan akan mendapat kutukan dari para leluhur yang telah melaksanakan adat tersebut.Pada persiapan perlengkapan seperti mencari daun “juang-juang” atau “daun andung”, daun ini berasal dari batang tumbuhan semak berbentuk lebar dan tebal, berwarna hijau kemerah-merahan. Daun ini tidak mempunyai tulang sehingga mudah dibentuk sesuai dengan keinginan. Daun menjuang banyak terdapat di daerah Kalimantan Barat yang umumnya mudah tumbuh dimana saja dan juga ada di daerah pemakaman yang ditanam oleh pihak ahli waris. Daun yang dipersiapkan diberikan kepada tetua kampung maupun kepada orang yang bisa membuat tulisan di daun menjuang.
Adapun ayat yang ditulis berupa ayat Al-Quran yang disebut Salamun Tujuh (tujuh kesejahteraan). Membuat tulisan di atas daun dapat mempergunakan benda-benda yang keras, seperti dari lidi daun kelapa yang dibuat menyerupai pinsil dengan ujung dilancipkan. Daun menjuang yang sudah ditulis disimpan di atas pintu rumah, dalam rumah atau di rendam dalam air. Air hasil rendaman daun menjuang dapat dipergunakan untuk mandi tolak bala atau untuk diminum oleh seluruh keluarga.
Makna Ritus dari Kegiatan Tradisi Robo’-Robo’
a. Upacara ziarah memiliki manfaat untuk dapat mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, serta mengenang jasa-jasa Opu Daeng Manambon dan turut mendo’akannya.
b. Pada Upacara Kenduri, melambangkan adanya rasa saling gotong-royong dalam mengisi runtutan acara dalan tradisi Robo’-Robo’.
c. Acara makan “saprahan” melambangakan rasa kebersamaan dan solidaritas antar sesama.
d. Mandi Safar melambangkan hakikat pensucian diri dan mengambil berkah dari apa yang pernah dirasakan oleh Nabi dan Rasul.
e. Daun Andung di tempatkan di atas arus melambangkan mengalirnya berkah doa dari daun yang ditulis tersebut.
f. Daun juang yang ditulis Salamun tujuh melambangkan mengalirnya berkah doa dari daun yang ditulis tersebut.
g. Ketupat melambangkan melepaskan bencana yang datang menimpa keluarga.
h. Salamun Tujuh (Tujuh Kesejahteraan) mengandung makna permintaan dan doa, seperti :
• Kesejahteran bagi seluruh alam.
• Kesejahteraan para Nabi dan Rasul yang terhindar dari marabahaya.
• Kesejahteraan pada hari-hari yang dianggap naas yaitu (Rabu) sampai terbit matahari besok harinya yaitu hari Kamis.
B. Nilai-Nilai Sosial yang Dijadikan Acuan dalam Lintas Multikultural
Sejak dahulu keharmonisan yang ditunjukkan oleh Opu Daeng Manambon ialah berkumpulnya berbagai etnis dalam suatu acara atau biasa disebut multietnis yang bersatu untuk turut menyukseskan suatu acara. Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim menyampaikan, "Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon yang terdiri dari berbagai etnis dan agama dengan suka cita menyambut kedatangan Beliau," ujarnya. Lebih lanjut ditambahkan, "Robo’-Robo’ sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar, diwariskan oleh Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah." Keharmonisan itu bisa dilihat di komplek pemakaman Opu Daeng Manambon yang disampingnya juga terdapat makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa serta dari beberapa etnis lainnya.(Kompas, Februari 2010).
Setelah selesai acara ritual tersebut, dilanjutkan dengan makan "saprahan" di Istana Amantubillah, selain itu menyuguhkan menu makanan dan minuman khas keratin. Dalam acara itu juga disuguhkan aneka hiburan tradisional Mempawah, seperti Tundang (Pantun Berdendang), Japin, Gurindam dan lain sebagainya. Dalam setiap perayaan ritual Robo’-
Robo’, selalu diadakan makan “Saprahan” atau makan bersama.Tidak seperti kegiatan makan bersama kebanyakan, pada makan “saprahan” ini semua warga tua-muda melakukannya di bawah naungan langit terbuka. Kegiatan makan bersama ini digelar di halaman rumah. Konon katanya, Opu Daeng Manambon datang di Kuala Mempawah disambut oleh Pangeran Adipati dengan upacara makan “saprahan”. Dalam penyajiannya, semua lauk-pauk dihidangkan dalam sebuah baki atau penampan besar. Satu “saprah” biasanya diperuntukan untuk empat atau lima orang. Perjamuan ini pada zaman dulu dilaksanakan di alam terbuka, tepatnya di tepi Sungai Mempawah, tempat yang terdapat 40 kapal layar Bugis yang membawa Opu Daeng Menambon bersandar. Adapun rute perjalanan rombongan Opu Daeng Menambon ini adalah dari perairan Kuala Sungai Mempawah di Desa Benteng menuju ke Muara Sungai Mempawah, berbeda dengan masyarakat yang bukan keturunan dari keraton Mempawah tetapi bersuku Bugis dan Melayu.
Pada waktu malam, hari Rabu para ibu rumah tangga di kota Mempawah sibuk dengan tugas masak-memasak untuk keperluan keesokan harinya. Sementara itu, para tetua kampung menyelenggarakan sesajian untuk diantar ke Sungai Mempawah. Nasi dan lauk-pauk dihidangkan diatas tikar untuk makan sekeluarga dan sahabat yang diundang. Pukul 07.00 atau 08.00 Upacara Kenduri dimulai. Tetua kampung pun membacakan do’a selamat dan do’a tolak bala, selesai membaca do’a makanlah sekeluarga didalam satu gang bersama-sama. Selesai makan, Upacara Kenduri pun selesailah dan gang itu dikemaskan kembali sampai bersih.Pada zaman kini upacara ritual mandi Safar masih tetap dilaksanakan dengan berkumpulnya beberapa orang, baik dari pihak keluarga tertentu maupun pihak keluarga lainnya pada suatu tempat yang sudah ditentukan bersama, mereka saling kenal sehingga terjadi interaksi antarwarga dan tidak menutup kemungkinan terjadinya asimilasi dari berbagai suku yang ada. Kegiatan Upacara Ritual Mandi Safar kini tidak hanya pada masyarakat suku Melayu akan tetapi ada juga dari suku-suku pendatang lainnya yang ikut membaur dan beradabtasi dengan lingkungan, seperti rasa solidaritas sesama warga yang mengadakan ritual tersebut.
A. Manfaat dan Tujuan Ritual Robo’-Robo’
Kegiatan ini banyak terdapat manfaat-manfaat yang kita anggap tidak terlalu penting, tetapi terlihat dalam beberapa kegiatan adanya Saprahan yang akan membangun rasa simpati terhadap sesama, terlebih pula untuk mempererat tali silaturrahmi bagi para peserta yang mengikuti tradisi ini. Robo’-Robo’ bagi sebagian masyarakat lokal menjadi berkah tersendiri untuk mendulang rupiah, mereka berjualan berbagai produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah pelaksanaan Robo’-Robo’. (Iman – Wisatanet.com, Maret 2007)
Arti lambang dalam kegiatan Upacara Robo’-Robo’ antara lain;
a. Perahu lancang kuning melambangkan perahu raja-raja Kesultanan Mempawah yang dipakai oleh para kaum kerabat kerajaan Mempawah.
b. Beras kuning melambangkan emas dan bertih melambangkan perak. Menabur beras dan bertih melambangkan, agar para leluhur turut hadir di dalam upacara adat tersebut.
c. Sesajian lauk-pauk dengan air melambangkan untuk para makhluk yang menjaga wilayah perairan.
d. Memasak dipantai Kuala Mempawah melambangkan rombongan Opu Daeng Manambun untuk mempersiapkan makan di daerah Sungai Mempawah.
e. Lantunan suara azan di Sungai Mempawah melambangkan pertama kali rombongan Opu Daeng Manambun mengumandangkan azan di wilayah Mempawah.
f. Air tolak bala dan air Salamun Tujuh melambangkan upaya manusia untuk menolak bala bencana yang mengancam kehidupan.
g. Kuntum bunga mawar melambangkan wewangian para leluhur untuk ditaburkan pada makam.
h. Air tepung tawar melambangkan penawaran bagi segala bencana yang datang.
i. Ketupat melambangkan bebasnya manusia dari bencana.
j. Upacara dipinggiran sungai melambangkan agar mendapatkan keselamatan dari bencana yang datang dari arah laut.
Beberapa hal yang ingin dicapai dengan diselenggarakannya upacara ini ialah :
1. Memperingati peristiwa historis penting bagi kerajaan Mempawah yaitu tentang kedatangan pendaratan pertama Opu Daeng Manambon di wilayah Mempawah. Peristiwa lain yang diperingati ialah wafatnya Opu Daeng Manmbon pendiri kerajaan Mempawah pada hari selasa bulan syafar tahun 1766.
2. Memohon ampun dan memohon pertolongan kepada tuhan yang maha kuasa agar seluruh warga masyarakat diselamatkan dari bala bencana yang banyak diturunkan pada setiap bulan syafar.
3. Pemujaan dan penghormatan kepada para leluhur, khusunya para panembahan Mempawah yang telah memimpin dan mengembangakan wilayah kerajaan Mempawah, agar diampunkan dosa-dosanya dan dibalas jasa-jasanya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksud lain dari penyelenggaraan upacara ini ialah untuk mengusir para roh jahat yang mengganggu kehidupan masyarakat.
4. Perkembangan selanjutnya, Robo’-Robo’ diselenggarakan untuk mengikuti adat-istiadat yang telah turun-temurun.
B. Hubungan Robo’-Robo’ dengan multikultural Sebagai Nilai Kearifan Lokal
1.9. Gambar 9. Foto Satu Diantara Keunikan yang Memunculkan Banyak Suku
Ritual Robo’-Robo’ mempresentasikan hubungan manusia dengan manusia, alam dan Sang Pencipta, setiap ritual yang dilakukan syarat dengan makna dan filosofi. Ada berbagai pelajaran mengenai kondisi dan hubungan yang saling terkait. Juga relasi dan antara seluruh isi bumi. Bagi masyarakat Mempawah, kedatangan Opu Daeng yang juga menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Mempawah, mempunyai arti tersendiri bagi eksistensi dan keberlangsungan masyarakat Bugis di Kalbar.
Kegiatan Robo’-Robo’ merupakan suatu tradisi yang mengangkat nilai kearifan lokal dari kegiatan yang berurpa gotong-royong serta saling bahu-membahu untuk menyukseskan acara tersebut. Selain itu, banyaknya warga yang mengikuti ritual Robo’-Robo’ untuk memperingati kedatangan Opu Daeng Menambon ke Kota Mempawah yang dipusatkan di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, memperjelas dengan banyaknya partisipasi para masyarakat dari semua kalangan. Puluhan raja, ratu dan kerabat keraton dari 13 keraton se-Nusantara juga hadir untuk mengikuti ritual yang dilangsungkan bersamaan dengan Pergelaran Seni Budaya Keraton Nusantara (PSBKN) ke-II tersebut (Kapan Lagi.com, 2007).
Tidak sekedar datang, dalam rombongan yang ada, turut serta berbagai komunitas dan suku bangsa. Berbagai komunitas itu, menyatu dalam berbagai tugas dan fungsi. Ini juga yang menjadi simbol interaksi dan pembauran yang sudah terjadi sejak dulu. Dalam memperingati dan melakukan ritual Robo’-Robo’, selain memperingati ritual dan budaya Robo’-Robo’, yang tak kalah penting adalah mengingatkan kembali arti penting dari relasi komunitas dan etnisitas yang begitu harmonis dan terjalin. Sehingga, pembauran yang terjadi bukan pembauran yang sifatnya insidental dan penuh rekayasa politik, namun sebuah pembauran alami dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh sebuah kepentingan politik tertentu.
Panitia pun telah mengundang semua keraton yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura untuk menghadiri perayaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan dengan negara tetangga melalui sebuah tradisi yang identik dengan budaya mereka. Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, Robo’-Robo’ biasanya diperingati dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. Tidak hanya di rumah, makan bersama juga dilakukan oleh siswa di berbagai sekolah baik tingkat SD - SMU pada Rabu pagi.
Sementara Mantan Gubernur Kalbar, Usman Jafar mengatakan, kegiatan Robo’-Robo’ menjadi even budaya lokal yang berkembang ke tingkat nasional. "Kegiatan Robo’-Robo’ merupakan budaya yang perlu dikembangkan karena telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam," tuturnya. Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer sebelah utara Pontianak. Setelah melalui berbagai perubahan dan perkembangan, Mempawah kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Pontianak. (*/rsd).
Selain itu, acara tambahan pihak panitia juga menggelar kirab benda-benda pusaka Kerajaan Amantubillah, setelah itu benda yang telah diarak keliling Kota Mempawah menjalani ritual pembersihan di Keraton Amantubillah. Pelaksanaan teknis upacara dilaksanakan oleh sebuah panitia yang dibentuk secara resmi oleh Pemda setempat. Upacara ini mempunyai pengaruh yang cukup luas bagi kalangan masyarakat dengan seluruh penduduk Kabupaten Pontianak yang merasa ikut terlibat didalamnya, maka demi kesatuan sosial, upacara ini diangkat menjadi upacara daerah. Panitia pelaksana terdiri dari berbagai unsur potensi daerah seperti Pemda setempat, tokoh agama, TNI, pemuda dan lain-lain.Panitia ini bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan bertanggung jawab atas pelaksaannya. Para tokoh agama bertugas untuk membimbing, mengatur dan melaksanakan upacara-upacara dilingkungannya, TNI bertanggung jawab atas keamanannya dan pemuda untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan lomba dan lainya.Selain panitia resmi tersebut, para keluarga kerajaan yang mewarisi kerajaan itu mempunyai fungsi teknis dalam kegiatan upacara, fungsinya seolah-olah sebagai penghubung antara alam manusia dengan arwah para leluhur. Hubungan antara manusia dengan para makhluk tersebut dapat dilakukan oleh keluarga kerajaan itu. Dalam upacara ini para makhluk halus tersebut harus diberitahu agar tidak jahat kepada manusia.
Dilanjutkan dengan penyusunan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, serta rincian pembiayaannya. Demikian pula mengenai pembuatan sesajian umum, biasanya dikumpulkan dari setiap rumah tangga. Para tokoh masyarakat, para tua-tua kampung dan lurah-lurah desa bertugas untuk mengarahkan masa dan menghimpun dana serta mengatur pelaksanaanya.Tidak hanya di Kota Mempawah, peringatan Robo’-Robo’ juga diperingati di beberapa tempat seperti di Kecamatan Segedong Kabupaten Pontianak, Kecamatan Sungai Kakap dan Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Hal itu, menurut Mardan merupakan sebagai pelestarian sejarah bahwa tempat-tempat tersebut pernah disinggahi pendiri Kota Mempawah yang hingga kini makamnya masih terawat dan sering dikunjungi oleh para penziarah yang datang dari berbagai tempat. (Harian Berkat, Mempawah, 2008).Dibalik kisah bersejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, sesungguhnya tersimpan nilai-nilai moral yang amat tinggi, satu diantaranya adalah terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya. “Lewat makan bersama, semua persoalan yang rumit Insya Allah menjadi mudah untuk dipecahkan. Melalui kegiatan makan bersama, secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi langsung,” menurut pendapat Mardan Adijaya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang sudah diuraikan di atas, diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Upacara ziarah memiliki manfaat untuk dapat mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, serta mengenang jasa-jasa Opu Daeng Manambon dan turut mendo’akannya. Pada Upacara Kenduri, melambangkan adanya rasa saling gotong-royong dalam mengisi runtutan acara dalam Tradisi Robo’-Robo’. Acara makan “saprahan” melambangakan rasa kebersamaan dan solidaritas antar sesama. Mandi Safar melambangkan hakikat pensucian diri dan mengambil berkah dari apa yang pernah dirasakan oleh Nabi dan Rasul.
2. Dibalik kisah bersejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, sesungguhnya tersimpan nilai-nilai moral yang amat tinggi, satu diantaranya adalah terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya.
B. Saran
Ada beberapa saran yang perlu disampaikan berdasarkan hasil penyusunan karya tulis ini:
1. Untuk pemerintah, hendaknya lebih memperhatikan beberapa kegiatan kebudayaan untuk dilestarikan, karena pada era globalisasi ini banyak sekali generasi muda yang sudah tidak lagi perduli dengan kebudayaan sendiri.
2. Untuk masyarakat yang heterogen hendaknya lebih memperhatikan nilai-nilai budaya serta tradisi-tradisi untuk mengurangi konflik multikultural.
3. Untuk penyusunan karya ilmiah selanjutnya, penulis mengharapkan dapat menggunakan partisipan yang lebih banyak lagi sehingga hasil penelitian tersebut dapat berlaku general. Selain itu, diperlukan banyak informan dari para maestro, sehingga perolehan data juga sangat akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983/1984. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Kalbar. Proyek IDKD. Kalimantan Barat.
Pertama, Putra. 2008. Multikulturalisme. Makalah, http:// my. opera. com/ Putra% 20Pratama/ blog/ show.dml/2743875. Tanggal Dikunjungi 12 Februari 2010.
Pringgo. 2008. Menilik Ritual Robo’-Robo’ dari Masa ke Masa, http:// satriopringgodigdo. blogspot. com/2008/03/ menilik-ritual-robo-robo-dari-masa-ke. html . Tanggal Dikunjungi 8 Maret 2010.
Natsir,M. dkk. 2007. Upacara Adat Suku Melayu Kabupaten Pontianak Mampawah Kalbar. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta
Sigit. 2010. 8 Hingga Februari 2010 Positif Pelaksanaan Robo’-Robo’. http://www.rripontianak. Com / 2009 /02 /RRI. dok.htm. Tanggal Dikunjungi 26 Februari 2010.
Sigit. 2009. Pemprov Terus Dukung Tradisi Robo’-Robo’. http://www.rripontianak.com/2009/ 02/pemprov-terus-dukung-tradisi-robo-robo/ . Tanggal Dikunjungi 28 Februari 2010.
Siswanto, Iwan. 2009. Melestarikan Budaya Robo’-Robo’, http://www.borneotribune. com/ melestarikan-budaya-robo-robo.html . Tanggal Dikunjungi 17 Maret 2010.
Suhaeri, Muhlis. 2008. Robo’-Robo’ Wisata Budaya Negeri di Opu Daeng Manambon, http://muhlissuhaeri. blogspot. com/ 2008/ 04/ roborob. html. Tanggal Dikunjungi 5 Maret 2010.
Wahyudi, Johan. 2010. Robo’-Robo’ sebagai Daya Ungkit Pembangunan. http://borneotribune.com/headline/robo-robo-sebagai-daya-ungkit-pembangunan.html. Tanggal Dikunjungi 13 Februari 2010.
2004, Robo’-Robo’, Tradisi Bernuansa Bone di Kalbar, http:// berita.liputan6.com/daerah/200404/76279/class='vidico'. Tanggal Dikunjungi 23 Februari 2010.
2007, Raja Mempawah Pimpin Ritual Robo-robo Peringati Opu Daeng Menambon, http:// www.kapanlagi.com/h/0000162332_print.html. Tanggal Dikunjungi 2 Maret 2010.
2008, Robo'-Robo' Napak Tilas Kedatangan Opu Daeng Manambon, http:// www.harianberkat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=140. Tanggal Dikunjungi 12 Februari 2010.
2008 .Tradisi dan Budaya sebagai Sumber Ahlak dan Budi Pekerti, http:// cari- disini-aja. blogspot. com/ 2008/ 12/ tradisi- dan- budaya- sebagai- sumber. html. Tanggal Dikunjungi 25 Februari 2010.
2009. Robo’-Robo’ Budaya Melayu Mempawah. http://pernikkhatulistiwa. blogspot. com/2009/01/robo-robo-budaya-melayu-mempawah.html. Tanggal Dikunjungi 29 Februari 2010.
2009. Multikulturalisme Peluang Kebangkitan Budaya Lokal, http://melayuonline. com/multikulturalisme-peluang-kebangkitan-budaya-lokal. htm. Tanggal Dikunjungi 8 Maret 2010.
2010, Perayaan Robo’-Robo’ di Keraton Amantubillah, http://INILAH.COM - Perayaan Robo-robo di Keraton Amantubillah.htm . Tanggal Dikunjungi 2 Maret 2010.
2010, Kerajaan Amantubillah Gelar Perayaan Robo’-Robo’, http://www.kompas. com/Kerajaan. Amantubillah. Gelar. Perayaan. Robo-robo.htm. Tanggal Dikunjungi 23 Februari 2010.
2010. Sejarah Robo’-Robo’. http://www.pontianak.web.id/pontianak/sejarah-robo-robo.html. Tanggal Dikunjungi 28 Februari 2010.
MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT
Oleh. Hamidah,Spd
ABSTRACT
Robo' tradition-Robo ', Cross Multicultural On Earth Equator.Potential culture in Indonesia resulted in a heterogeneous society. Indonesia as a country that stands on cultural diversity multiculturalism berdemensi on nation-building. With multiculturalism is the principle of "Unity in Diversity" as shown in the basic state will be realized. In this globalization era, there is generally still we find people who still adhere to cultural traditions and customs of the region. Ritual is part of an ethnic identity that contains the values, norms, and expressive symbols as a social bond that acts as areinforcement of social bonds of solidarity and social cohesiveness of local communities. Arrival of King Mempawah, Opu Daeng Manambon from South Sulawesi in the 17th century tradition enshrined in Robo'-Robo '. Sacred ritual that is often done is a manifestation of gratitude for the gifts given and at once begged safety, it is still going on continuously for the supporters. Robo' tradition-Robo 'itself is on the agenda of Culture and Tourism of West Kalimantan. Cultural values that can be dug through Tradition Robo'-Robo ', Social values one of which is the social value that can be made a reference in Multicultural Cross Describes the cultural values that can be dug through Tradition Robo'-Robo'. . uniqueness which can be seen from the tradition Robo'-Robo '. shows how wonderful of togetherness, to give a direction to all elementsofsocietyto form a harmony. In this section, raised some understanding of the contents of the discussion of tradition Robo'-Robo 'that can be used to explore the relationship between cultural values and social values.Activities carried out in several areas in West Kalimantan, among others, in Mempawah, Pontianak District, in the district of Kubu Raya Kakap District, West Kalimantan and Ketapang.Event-robo Robo didisi also with other activities, such as canoe races, games tops, Lamba kasidah, dining and entertainment masyarakat.Acara saprah culture containing the history of the arrival of Opu Daeng Menambon to Mempawah, containing moral values very high, such as the creation of a sense of unity between the king with his subjects, and subordinate officials, the rich with the poor and others, as proposed Mardan Adijaya, through eating together called saprah eat, all the complicated issues Insha Allah be easy to solve. indirectly created a fabric of communication between eachother.
Keywords: Traditional Robo'-Robo ', Multicultural, Equator
Tradisi Robo’-Robo’, Lintas Multikultural Di Bumi Khatulistiwa. Potensi kebudayaan di Indonesia menghasilkan sebuah masyarakat yang heterogen. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman budaya yang berdemensi pada multikulturalisme pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud. Pada zaman globalisasi ini, umumnya masih ada kita temukan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat kebudayaan daerahnya. Upacara adat adalah bagian dari identitas suatu suku yang mengandung nilai-nilai, norma, dan simbol-simbol ekspresif sebagai sebuah ikatan sosial yang berperan sebagai penguat ikatan solidaritas sosial dan kohesivitas sosial masyarakat lokal.
Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya. Tradisi Robo’-Robo’ sendiri merupakan agenda Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat. Nilai-nilai budaya yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’ , Nilai-nilai sosial salah satunya nilai sosial adalah yang dapat di jadikan acuan dalam Lintas Multikultural Mendeskripsikan nilai-nilai budaya yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’.. keunikan yang dapat dilihat dari tradisi Robo’-Robo’. memperlihatkan betapa indahnya kebersamaan, memberikan suatu arahan kepada seluruh elemen masyarakat untuk membentuk suatu keharmonisan.Pada bagian ini dikemukakan beberapa pengertian dari isi pembahasan mengenai Tradisi Robo’-Robo’ yang dapat dipergunakan untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kegiatan dilaksanakan dibeberapa wilayah di Kalimantan Barat antara lain di Mempawah, Kabupaten Pontianak, di kecamatan Kakap Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Acara Robo-robo juga didisi dengan kegiatan lainnya,seperti lomba sampan,permainan gasing,lamba kasidah, makan saprah dan hiburan masyarakat.Acara budaya yang mengandung sejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, mengandung nilai-nilai moral yang amat tinggi, seperti terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya,seperti yang dikemukakan Mardan Adijaya, melalui makan bersama yang disebut makan saprah, semua persoalan yang rumit Insya Allah menjadi mudah untuk dipecahkan. secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi antara satu dengan yang lainnya.
Kata Kunci : Tradisi Robo’-Robo’, Multikultural, Khatulistiwa
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan negara yang memiliki seribu kemajemukan budaya pariwisata. Potensi kebudayaan didalamnya menghasilkan sebuah masyarakat yang heterogen. Hal ini membuat banyak perbedaan budaya serta keberagaman yang menghasilkan suatu multikultural. Multikulturalisme mempunyai peran yang besar dalam pembangunan bangsa. Indonesia sebagai suatu negara yang berdiri di atas keanekaragaman kebudayaan meniscayakan pentingnya multikulturalisme dalam pembangunan bangsa. Dengan multikulturalisme ini maka prinsip “Bhineka Tunggal Ika” seperti yang tercantum dalam dasar negara akan menjadi terwujud. Keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan menjadi inspirasi dan potensi bagi pembangunan bangsa sehingga cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dapat tercapai.
Pada zaman globalisasi ini, umumnya masih ada kita temukan masyarakat yang masih memegang teguh tradisi dan adat istiadat kebudayaan daerahnya dan hal itu menjadikan suatu kebiasaan yang harus dilaksanakan, apalagi tradisi kebudayaan tersebut bersifat sakral.Tradisi dan budaya merupakan beberapa hal yang menjadi sumber dari akhlak dan budi pekerti. Tradisi merupakan suatu gambaran sikap dan perilaku manusia yang telah berproses dalam waktu lama dan dilakukan secara turun-temurun dimulai dari nenek moyang. Tradisi yang telah membudaya akan menjadi sumber dalam berakhlak dan berbudi pekerti seseorang. Manusia dalam berbuat akan melihat realitas yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai upaya dari sebuah adaptasi walaupun sebenarnya orang tersebut telah mempunyai motivasi berperilaku yang sesuai dengan tradisi yang ada pada dirinya.
Upacara adat adalah bagian dari identitas suatu suku yang mengandung nilai-nilai, norma, dan simbol-simbol ekspresif sebagai sebuah ikatan sosial yang berperan sebagai penguat ikatan solidaritas sosial dan kohesivitas sosial masyarakat lokal. Identitas adalah harga diri dan sekaligus merupakan “perisai” untuk menghadapi tekanan dan pengaruh kekuatan sosial budaya dari luar. Identitas budaya suatu kelompok sosial berakar pada entitas kultural yang dapat digali dalam domain-domain budaya seperti mitos, religi, bahasa, dan ideologi. Adat istiadat adalah merupakan sebuah wujud dari rasa daya cipta suatu bangsa begitu juga adat budaya yang masih tetap ada di wilayah Kalimantan Barat sebagai sebuah wilayah yang cukup luas yang ada di Indonesia, diantara provinsi Kalimantan Barat meliputi beberapa kabupaten yang mempunyai adat istiadat yang multikultural, dan masih tetap eksis mempertahankan adat istiadat masyarakatnya.
Kalimantan Barat juga memiliki beragam budaya dan tradisi yang berasal dari banyak suku, diantaranya: Dayak, Melayu, Tionghoa, Madura, Bugis, dan masih banyak lagi. Ciri khas dari masing-masing kebudayaan menjadikan suatu keunikan tersendiri bagi daerah. Salah satunya suku Bugis Kalimantan Barat yang identik dengan Melayu. Suku Bugis ini memiliki banyak sekali tradisi yang masih kental yang juga bersifat sakral. Seperti tradisi Robo’-Robo’ yang dikenal sebagai tradisi yang memperingati hari datangnya seseorang dari tanah bugis Sulawesi Selatan pada tahun 1637. Kedatangan Raja Mempawah, Opu Daeng Manambon dari Bone, Sulawesi Selatan di abad ke-17 diabadikan dalam tradisi Robo’-Robo’. Upacara sakral yang sering dilakukan adalah berupa wujud dari rasa syukur atas karunia yang diberikan dan sekaligus memohon keselamatan, hal ini masih terus berlangsung secara terus menerus bagi masyarakat pendukungnya. Tradisi Robo’-Robo’ sendiri merupakan agenda Visit Kalbar 2010 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Barat (Gaya Hidup, 2010).
Akhir-akhir ini, intensitas dan ekstensitas konflik di tengah-tengah masyarakat terasa kian meningkat. Terutama konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat, meskipun tidak menutup kemungkinan timbulnya konflik berdimensi vertikal, yakni antara masyarakat dan daerah. Hanya saja, persoalannya menjadi lain jika konflik sosial yang berkembang dalam masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang positif, tetapi berubah menjadi destruktif bahkan anarkis. Oleh sebab itu, maka tradisi Robo’-Robo’ ini dapat menjadikan suatu alat untuk mengurangi konflik yang berkaitan dengan multikultural. Hal ini akan dijelaskan dengan beberapa pertanyaan dalam penyusunan tulis ini.Nilai-nilai budaya apa sajakah yang dapat di gali melalui Tradisi Robo’-Robo’ ?Nilai-nilai sosial apa sajakah yang dapat di jadikan acuan dalam Lintas Multikultural ?
Pada bagian ini dikemukakan beberapa pengertian dari isi pembahasan mengenai Tradisi Robo’-Robo’ yang dapat dipergunakan untuk menggali hubungan antara nilai-nilai budaya dan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kerangka teori sendiri, memiliki peran penting dalam penelitian agar dapat menemukan hasil secara maksimal. Kesalahan dalam memilih teori seringkali akan berpengaruh terhadao hasil yang akan ditemukan kemudian.
B. Latar Belakang Kalimantan Barat
Kalimantan Barat adalah satu di antara provinsi di tanah air yang sedang berupaya membangun dalam mencapai cita-cita demi kesejahteraan masyarakatnya. Wilayah ini membentang lurus dari utara ke selatan sepanjang lebih dari 600 km dan sekitar 850 km dari barat ke timur, dengan luas wilayah 146.807 km (7,53 persen dari luas Indonesia atau 1,13 kali luas Pulau Jawa) dan menjadi Provinsi terluas keempat setelah Irian, Kaltim dan Kalteng. Keunikan tersendiri dari Kalimantan Barat yaitu adanya Tugu Khatulistiwa. Tugu Khatulistiwa merupakan ikon Kota Pontianak yang memiliki tinggi 15,25 m. Tugu Khatulistiwa yang terlihat sekarang dibuat tahun 1990, Tugu Khatulistiwa ini terletak di garis khatulistiwa yang membelah Bumi menjadi dua bagian, Utara dan Selatan.Daerah Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang diantaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman. Walaupun sebagian kecil wilayah Kaimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Riau, Sumatera.
Beberapa motto pembangunan diluncurkan oleh Mantan Gubernur Kalbar H. Usman Ja'far Periode 2003 - 2008 adalah “Harmonis dalam Etnis, Maju dalam Usaha, dan Tertib dalam Pemerintahan”. Harmonis dalam etnis adalah sebuah keselarasan seluruh komponen masyarakat Kalbar untuk hidup berdampingan, saling menunjang dan berkiprah positif dalam membangun dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, dan negara secara harmonis, rukun, tertib, dan aman dalam kerangka mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan julukan seribu sungai Kalimantan Barat memanfaatkan sebagai tempat untuk bertransaksi, transportasi bahkan berbudaya serta tradisi. Seperti pada tradisi Robo’-Robo’, yang memanfaatkan sungai terutama sungai Kapuas untuk dijadikan salah satu tempat upacara
lam ritual tersebut. Agenda perayaan Robo’-Robo’ yang diperingati setiap Rabu akhir bulan Safar itu menggelar ritual penyambutan di Kuala Mempawah Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim, oleh para prajurit kerajaan. Kemudian dilanjutkan ritual buang-buang sesaji ke laut atau sungai sebagai tolak bala akan tetapi kegiatan buang-buang sesaji yang berarti member makan penjaga laut sudah tidak dilakukan lagi. Upacara inilah yang memanfaatkan perairan di Kalimantan Barat. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalbar, Kamaruzzaman, menambahkan Perayaan Robo-robo telah diagendakan dalam Visit Kalbar 2010 dan masuk agenda wisata Indonesia menuju wisata internasional.
C. Asal-Usul Tradisi Robo’-Robo’
Kesultanan Mempawah kini berbeda dengan ketika Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri. Sekitar tahun 1610 M, Mempawah kembali bangkit. Tampil sebagai pemimpin baru adalah Panembahan Kudong/Kudung atau juga disebut Panembahan Yang Tidak Berpusat. Raja Kudong memindahkan pusat ibu kota Mempawah ke Pekana (Karangan). Setelah Raja Kudong meninggal pada tahun 1680 M, tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Panembahan Senggauk. Panembahan Senggau menikah dengan putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri Sumatra, yang bernama Putri Cermin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mas Indrawati. Ketika usia Mas Indrawati telah beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan Panembahan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari hasil perkawinan ini, lahirlah seorang putri cantik bernama Putri Kesumba. Ketika dewasa, Putri Kesumba dinikahkan dengan Opu Daeng Menambun.
Awal diperingatinya Robo’-Robo’ ini sendiri, bermula dengan kedatangan rombongan Opu Daeng Manambon dan Putri Kesumba yang merupakan cucu Panembahan Mempawah kala itu yakni, Panembahan Senggaok yang merupakan keturunan Raja Patih Gumantar dari Kerajaan Bangkule Rajangk Mempawah pada tahun 1148 Hijriah atau 1737 Masehi. Masuknya Opu Daeng Manambon dan istrinya Putri Kesumba ke Mempawah, bermaksud menerima kekuasaan dari Panembahan Putri Cermin kepada Putri Kesumba yang bergelar Ratu Agung Sinuhun bersama suaminya, Opu Daeng Manambon yang selanjutnya bergelar Pangeran Mas Surya Negara sebagai pejabat raja dalam Kerajaan Bangkule Rajangk.
Berlayarnya Opu Daeng Manambon dari Kerajaan Matan Sukadana (Kabupaten Ketapang) diiringi sekitar 40 perahu. Saat masuk di Muara Kuala Mempawah, rombongan disambut dengan suka cita oleh masyarakat Mempawah. Penyambutan itu dilakukan dengan memasang berbagai kertas dan kain warna warni di rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir sungai. Bahkan, beberapa warga pun menyongsong masuknya Opu Daeng Manambon ke Sungai Mempawah dengan menggunakan sampan.
Terharu, karena melihat sambutan rakyat Mempawah yang cukup meriah, Opu Daeng Manambon pun memberikan bekal makanannya kepada warga yang berada di pinggir sungai untuk dapat dinikmati mereka juga. Karena saat kedatangannya bertepatan dengan hari Minggu terakhir bulan Syafar, lantas rombongan tersebut menyempatkan diri turun di Kuala Mempawah. Selanjutnya Opu Daeng Manambon yang merupakan keturunan dari Kerajaan Luwu Sulawesi Selatan, berdoa bersama dengan warga yang menyambutnya, mohon keselamatan kepada Allah agar dijauhkan dari bala dan petaka. Usai melakukan doa, kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.
Bagi sebagian masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, bulan Safar diyakini sebagai bulan na’as dan sial. Sang Pencipta dipercayai menurunkan berbagai malapetaka pada bulan Safar. Oleh sebab itu, masyarakat yang meyakininya akan menggelar ritual khusus agar terhindar dari “kemurkaan” bulan Safar. Ritual tersebut juga dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap arwah leluhur. Namun pandangan di atas berbeda dengan pandangan masyarakat Kota Mempawah yang menganggap bulan Safar sebagai “bulan keberkahan” dan kedatangannya senantiasa dinanti-nantikan. Karena pada bulan Safar terjadi peristiwa penting yang sangat besar artinya bagi masyarakat Kota Mempawah hingga saat ini. Peristiwa penting tersebut kemudian diperingati dengan menggelar Ritual Robo’-Robo’. Tujuan digelarnya ritual ini adalah untuk memperingati kedatangan dan/atau napak tilas perjalanan Opu Daeng Menambon yang bergelar Pangeran Mas Surya Negara dari Kerajaan Matan, Martapura, Kabupaten Ketapang, ke Kerajaan Mempawah, Kabupaten Pontianak, pada tahun 1737 M/1448 H. Opu Daeng Menambon adalah putra ketiga Opu Daeng Rilekke yang terkenal sebagai pelaut handal dan gemar sekali melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Nusantara bersama dengan anak-anaknya.
Opu Daeng Rilekke sendiri adalah putra ketiga Sultan La Madusalat dari Kesultanan Luwuk, Bone, Sulawesi Selatan, yang telah menjadi Kesultanan Islam sejak tahun 1398 M. Opu Daeng Menambon beserta keluarganya pindah dari Kerajaan Matan ke Kerajaan Mempawah atas permintaan Panembahan Senggauk, Raja Mempawah waktu itu. Setelah Panembahan Senggauk mangkat, Opu Daeng Menambon naik tahta. Beliau berkuasa di sana sekitar 26 tahun, yakni dari tahun 1740 M sampai beliau wafat pada tahun 1766 M.
Kesultanan Mempawah kini berbeda dengan ketika Kerajaan Mempawah pertama kali berdiri. Sekitar tahun 1610 M, Mempawah kembali bangkit. Tampil sebagai pemimpin baru adalah Panembahan Kudong/Kudung atau juga disebut Panembahan Yang Tidak Berpusat. Raja Kudong memindahkan pusat ibu kota Mempawah ke Pekana (Karangan).
2.3. Gambar 4. Foto Saudara Opu Daeng Manambon
Setelah Raja Kudong meninggal pada tahun 1680 M, tahta kekuasaan kemudian dipegang oleh Panembahan Senggauk. Pada masa pemerintahan ini, pusat ibu kota dipindahkan dari Pekana ke Senggauk, hulu Sungai Mempawah. Panembahan Senggauk menikah dengan putri Raja Qahar dari Kerajaan Baturizal Indragiri Sumatra, yang bernama Putri Cermin. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Mas Indrawati. Ketika usia Mas Indrawati telah beranjak dewasa, ia dinikahkan dengan Panembahan Muhammad Zainuddin dari Kerajaan Matan (Ketapang). Dari hasil perkawinan ini, lahirlah seorang putri cantik bernama Putri Kesumba. Ketika dewasa, Putri Kesumba dinikahkan dengan Opu Daeng Menambun.Sebagai informasi, Opu Daeng Menambun merupakan keturunan (cucu) dari Raja La Madusalat yang memerintah Kerajaan Luwu (kini terletak di Provinsi Sulawesi Selatan) pada awal abad ke-18. Raja La Madusalat memiliki tiga putra, yaitu:
• Pajung (pernah memerintah di Kerajaan Luwuk).
• Opu Daeng (pernah menjadi pemimpin Suku Bugis di Betawi).
• Opu Daeng Rilekke, yang dikenal sebagai pelaut pemberani dan suka mengembara ke berbagai daerah dengan mengikutsertakan putra-putrinya. Ia mempunyai lima orang anak, yaitu: Opu Daeng Kemasih, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Celak, dan Opu Daeng Melewa.
Dengan demikian, Opu Daeng Menambun sebenarnya bukan orang Kalimantan asli, namun sebagai perantau dari Sulawesi Selatan dan keturunan Suku Bugis. Sejak dulu keturunan La Madusalat dikenal sebagai pelaut-pelaut yang sangat ulung dan pemberani. Mereka merantau ke berbagai penjuru Nusantara dengan mengarungi laut-laut yang begitu luas, dengan tujuan Banjarmasin, Betawi, Johor, Riau, Semenanjung Melayu, hingga akhirnya tiba di Tanjungpura (Matan).
Setelah bertahun-tahun menetap di Matan, Opu Daeng Menambun beserta keluarganya pindah ke Mempawah. Ketika Panembahan Senggauk meninggal pada tahun 1740 M, Opu Daeng Menambun naik tahta kekuasaan Mempawah dengan gelar Pangeran Mas Surya Negara. Opu Daeng Menambun memindahkan pusat kerajaan ke Sebukit Rama (kira-kira 10 km) dari Kota Mempawah.Masa pemerintahan Opu Daeng Menambun merupakan masa di mana Kesultanan Mempawah Islam mulai berdiri dan kemudian berkembang. Pada masanya, penduduk Mempawah dikenal sebagai penganut Islam yang sangat taat. Opu Daeng Menambun sendiri dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan lebih mementingkan musyawarah dalam memutuskan berbagai kebijakan kesultanan.
Habib Husein Alkadrie, ulama terkenal asal Kalimantan Barat, pernah pindah dari Matan ke Mempawah. Salah seorang putri Opu Daeng Menambun, Utin Candramidi dinikahkan dengan Sultan Syarif Abdurrahman (Sultan I di Kesultanan Kadriah), putra Habib Husein Alkadrie.Ritual ini bersifat historis karena upacara ini dikaitkan dengan peristiwa penting dalam kehidupan kerajaan mempawah. Antara lain, pendaratan pertama Opu Daeng Manambon, putra bugis pendiri kerajaan mempawah dan kematian beliau sebagai panembahan pertama kerajaan itu. Dapat pula dikatakan bersifat religius karena terdapat ibadah bagi orang Islam yaitu permohonan do’a kepada Allah SWT agar seluruh warga masyarakat diselamatkan dari bala’ bencana yang dapat menimpa sewaktu-waktu.Dikategorikan bersifat magis karena upacara ini bersifat memberi persembahan dan permintaan ampun dari manusia-manusia kepada para leluhur, khusunya arwah para Panembahan Mempawah dan makhluk-makhluk halus yang dipercayai mempunyai kelebihan dari manusia. Dari para leluhur dan makhluk-makhluk halus itu diharapkan dapat memberikan pertolongan pada manusia untuk melindungi dari bala bencana yang akan menimpa.
Selain itu, acara tambahan pihak panitia juga menggelar kirab benda-benda pusaka Kerajaan Amantubillah, setelah itu benda yang telah diarak keliling Kota Mempawah menjalani ritual pembersihan di Keraton Amantubillah. Panitia pun telah mengundang semua keraton yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura untuk menghadiri perayaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk sekaligus menjalin tali persaudaraan dengan Negara tetangga melalui sebuah tradisi yang identik dengan budaya mereka.Gubernur Kalimantan Barat Cornelis mengatakan, saat ini saja masyarakat sudah merasakan nilai tambah dari adanya tradisi Robo’-robo’. Karena secara ekonomi, jumlah wisatawan lokal yang datang untuk melihat tradisi Robo’-robo’ telah melakukan transaksi jual beli.
Menurut Gubernur Kalbar Cornelis, kondisi ini adalah suatu kenyataan yang terjadi dinegara-negara besar yang notabene mengandalkan kunjungan wisata sebagai suatu sumber penghasilan negaranya sehingga jika ada kemasan yang lebih menarik untuk melestarikan dan menjual objek wisata budaya Robo’-Robo’ ini, maka buka tidak mungkin jika ekonomi kerakyatan di Kabupaten Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya dapat terkena imbas dari adanya ini. (Kurnia Santosa :: RRI)
A. Analisis Nilai-Nilai Budaya yang dapat di Gali melalui Tradisi Robo’-Robo’
Dari hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh hasil dari beberapa kegiatan-kegiatan tradisi Robo’-Robo’. Dalam kegiatan tradisi Robo’-Robo’ terdapat banyak sekali runtutan-runtutan acara yang banyak mengandung nilai-nilai budaya. Hiburan yang berupa tarian Angin Mamiri dari Tanah Bugis ataupun yang berbau khas lainnya yang menjadi khas suatu acara kebudayaan turut mengisi salah satu acara.
Selain itu, dalam hal ini juga terdapat banyak tempat yang dipergunakan untuk penyelenggaraan upacara sejak hari Selasa sampai pada siang hari Rabunya. Tempat-tempat tersebut adalah :
1. Makam Opu Daeng Manambom di sebukit Rama.
2. Makam Para Panembahan Mempawah di Pulau Pedalaman agak hulu dari Kuala Mempawah.
3. Didaerah pantai yang dikenal oleh penduduk Mempawah sebagai tempat pendaratan pertama dari Armada Opu Daeng Manambon.
4. Didalam setiap gang di Kota Mempawah.
5. Di Kuala Mempawah mulai dari jembatan induk sampai daerah pantai.
Upacara ziarah kubur diselenggarakan pada hari Selasa terakhir bulan Syafar. Pada malam Rabu diselenggarakan acara masak-masak diperkampungan tempat pendaratan pertama Opu Daeng Manambon ketika membangun Mempawah menjadi sebuah perkampungan. Pada malam itu juga diselenggarakan upacara-upacara persembahan sesajian untuk para penjaga air.
Hari Rabu pada pagi harinya selesai sholat shubuh diselenggarakan upacara kenduri oleh setiap kelompok masyarakat, khususnya masyarakat di Kota Mempawah. Upacara hari Rabu itu kemudian dilanjutkan pada siang harinya berupa perlombaan sampan di Kuala Mempawah.
Untuk pihak-pihak yang terlibat dalam upacara, hampir seluruh warga masyarakat di wilayah Kabupaten Pontianak khususnya suku Bugis dan Melayu merasa turut terlibat dalam penyelenggaraan upacara Robo’-Robo’. Penduduk dalam kota ikut aktif menyelenggarakan upacara baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama. Yang tidak ikut aktif dalam kegiatan upacara keterlibatan mereka adalah dalam hal turut serta meramaikannya, terutama anak-anak muda laki-laki atau wanita mengambil kesempatan dalam acara ini untuk bersuka ria di tempat-tempat hiburan.Dikalangan keluarga bangsawan keterlibatan dalam upacara ini ialah dalam melakukan ziarah makam para panembahan baik panembahan Opu Daeng Manambon atau panembahan-panembahan yang lainnya.
Dilingkungan istana pada hari Selasa, keluarga kerajaan dan masyarakat sudah berkumpul untuk bersama-sama menuju bukit guna menziarahi makam para panembahan. Sebelumnya telah dipersiapkan alat-alat perlengkapan upacara yang akan dibawa ke makam, terutama sesajian, air tolak bala, kendaraan air dan makanan, sementara panitia menyiapkan alat-alat untuk keperluan ziarah.
1. Upacara Ziarah
Opu Daeng Menambon wafat pada hari Senin tahun 1761 dan dikebumikan pada hari Selasa akhir bulan Syafar. Maka, pada hari Selasa terakhir bulan Syafar, keluarga istana berkumpul di istana begitu juga dengan para pejabat pemerintah dan panitia penyelenggaraan Robo’-Robo’ serta warga masyarakat ikut serta dalam acara ziarah itu. Pukul 07.00 pagi rombongan sudah mulai berangkat menuju Sebukit Rama, makam para panembahan Mempawah. Sekitar pukul 10.00 siang hari upacara ziarah kubur itu baru akan dimulai.
Dalam perjalanan tidak ada upacara apa-apa, juga tidak disertai dengan bunyi-bunyian sampai ditempat yang dituju, rombongan peziarah harus mendaki bukit (Sebukit Rama) untuk mencapai lokasi makam. Jumlah anak tangga dari yang terbawah sampai yang teratas kurang lebih 250 buah. Rombongan penziarah yang datang satu persatu memasuki ruang makam dengan merapatkan saf-saf duduk berhimpitan. Prosesi upacara dimulai dengan penaburan beras kuning dan bertih oleh pemimpin upacara ke atas makam/nisan Opu Daeng Manambun diiringi dengan doa. Peralatan sesajian yang telah disiapkan diletakan pada bagian Barat nisan ditengah-tengah peserta.
Adapun sesajian yang dipergunakan di dalam lokasi makam antara lain :
1. Sesajian tersebut berupa nasi kuning yang membentuk kerucut
2. Dibagian atas diletakan sebuah telur ayam rebus.
3. Nasi dengan seekor panggang ayam,
4. Bertih
5. Beras kuning satu mangkuk
6. Sepiring katupat
7. Sisir
8. Pisang masak di dalam piring
9. Setanggi (dupa)
Prosesi selanjutnya pemimpin upacara membakar setanggi, diiringi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, berzikir dan berdoa dilakukan upacara tabur bunga ke atas makam Opu Daeng Manambun oleh para kaum kerabat istana yang diikuti oleh masyarakat lainnya. Rombongan pertama telah selesai melakukan upacara dan rombongan kedua memasuki bangsal tempat Opu Daeng Manambon. Upacara dimulai dengan pemimpin juru kunci makam untuk memulai membaca do’a-do’a dengan tujuan memperoleh keselamatan. Maka, selesailah upacara ziarahan dan semua peserta beristirahat diluar makam ditangga atau ditepian sungai untuk makan-makanan yang dibawa masing-masing.
2. Upacara Kenduri
Dalam tradisi ini dimulai dengan Raja, Ratu Mempawah, putra-putrinya serta punggawa dan pengawal berangkat dari Desa Benteng, Mempawah, menggunakan perahu bidar, yakni perahu kerajaan dari Istana Amantubillah. Kapal tersebut berlayar menuju muara Sungai Mempawah yang terletak di Desa Kuala Mempawah dengan jarak tempuh sekitar satu jam perjalanan. Di muara sungai akan dilakukan semacam upacara "penyambutan" ke laut seperti ketika Opu Daeng Menambon tiba di muara sungai tersebut untuk pertama kalinya.
3. Upacara Mandi Safar
Pada pagi harinya penduduk minum atau mandi dengan air tolak bala atau Salamun Tujuh, hal ini disebut juga Upacara Mandi Safar. Upacara Mandi Safar yang dilakukan pada bulan Safar, umumnya dilakukan di muara sungai maupun di gang-gang yang mempunyai parit-parit kecil dan juga di dalam rumah. Keluarga besar di dalam sebuah perkampungan yang masih mempunyai adat istiadat yang kuat, jika tidak melakukannya pada tempat terbuka maka melakukannya di dalam atau pada tempat yang tertutup. Pada umumnya, air yang disediakan adalah air khusus yang sudah dibacakan oleh tetua kampung.
1.5. Gambar 8. Seorang Tetua Kampung Sedang Menulis Ayat Al-Qur’an
pada Daun Juang-Juang.
Ritual mandi Safar dengan maksud untuk menolak bala bencana, yang menimpa dan menjadi sebuah keyakinan masyarakat bahwa akan membawa kesialan bagi anggota badan jika tidak dibersihkan pada bulan tersebut karena banyaknya dosa-dosa yang ada di dalam tubuh manusia. Bala bencana berupa siksaan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, keyakinan akan hal ini dapat terhindar jika dengan sungguh-sungguh memohon ampun dengan wujud mandi di sungai, semua dosa-dosa akan gugur mengikuti aliran air yang mengalir.Ritual mandi Safar seperti menjadi suatu kewajiban yang diwariskan oleh nenek moyang pada wilayah tertentu secara geografis yang umumnya dilakukan oleh masyakat yang tinggal di daerah perairan serta pantai sepanjang pesisir wilayah Kabupaten Pontianak dan Kalimantan Barat secara umumnya. Upacara yang dilakukan secara turun-menurun tidak berani dilanggar oleh keturunan kerajaan, dan masih tetap dilaksanakan yang dikhawatirkan akan mendapat kutukan dari para leluhur yang telah melaksanakan adat tersebut.Pada persiapan perlengkapan seperti mencari daun “juang-juang” atau “daun andung”, daun ini berasal dari batang tumbuhan semak berbentuk lebar dan tebal, berwarna hijau kemerah-merahan. Daun ini tidak mempunyai tulang sehingga mudah dibentuk sesuai dengan keinginan. Daun menjuang banyak terdapat di daerah Kalimantan Barat yang umumnya mudah tumbuh dimana saja dan juga ada di daerah pemakaman yang ditanam oleh pihak ahli waris. Daun yang dipersiapkan diberikan kepada tetua kampung maupun kepada orang yang bisa membuat tulisan di daun menjuang.
Adapun ayat yang ditulis berupa ayat Al-Quran yang disebut Salamun Tujuh (tujuh kesejahteraan). Membuat tulisan di atas daun dapat mempergunakan benda-benda yang keras, seperti dari lidi daun kelapa yang dibuat menyerupai pinsil dengan ujung dilancipkan. Daun menjuang yang sudah ditulis disimpan di atas pintu rumah, dalam rumah atau di rendam dalam air. Air hasil rendaman daun menjuang dapat dipergunakan untuk mandi tolak bala atau untuk diminum oleh seluruh keluarga.
Makna Ritus dari Kegiatan Tradisi Robo’-Robo’
a. Upacara ziarah memiliki manfaat untuk dapat mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, serta mengenang jasa-jasa Opu Daeng Manambon dan turut mendo’akannya.
b. Pada Upacara Kenduri, melambangkan adanya rasa saling gotong-royong dalam mengisi runtutan acara dalan tradisi Robo’-Robo’.
c. Acara makan “saprahan” melambangakan rasa kebersamaan dan solidaritas antar sesama.
d. Mandi Safar melambangkan hakikat pensucian diri dan mengambil berkah dari apa yang pernah dirasakan oleh Nabi dan Rasul.
e. Daun Andung di tempatkan di atas arus melambangkan mengalirnya berkah doa dari daun yang ditulis tersebut.
f. Daun juang yang ditulis Salamun tujuh melambangkan mengalirnya berkah doa dari daun yang ditulis tersebut.
g. Ketupat melambangkan melepaskan bencana yang datang menimpa keluarga.
h. Salamun Tujuh (Tujuh Kesejahteraan) mengandung makna permintaan dan doa, seperti :
• Kesejahteran bagi seluruh alam.
• Kesejahteraan para Nabi dan Rasul yang terhindar dari marabahaya.
• Kesejahteraan pada hari-hari yang dianggap naas yaitu (Rabu) sampai terbit matahari besok harinya yaitu hari Kamis.
B. Nilai-Nilai Sosial yang Dijadikan Acuan dalam Lintas Multikultural
Sejak dahulu keharmonisan yang ditunjukkan oleh Opu Daeng Manambon ialah berkumpulnya berbagai etnis dalam suatu acara atau biasa disebut multietnis yang bersatu untuk turut menyukseskan suatu acara. Pangeran Ratu Mardan Adijaya Kesuma Ibrahim menyampaikan, "Ketika itu para pengikut Opu Daeng Manambon yang terdiri dari berbagai etnis dan agama dengan suka cita menyambut kedatangan Beliau," ujarnya. Lebih lanjut ditambahkan, "Robo’-Robo’ sarat dengan pesan persatuan dari semua etnis dan agama yang ada di Kalbar, diwariskan oleh Opu Daeng Manambon ketika mendirikan Kota Mempawah." Keharmonisan itu bisa dilihat di komplek pemakaman Opu Daeng Manambon yang disampingnya juga terdapat makam Panglima Hitam orang Dayak, Patih Humantir dan Damarwulan orang Jawa, Lo Tai Pak orang Tionghoa serta dari beberapa etnis lainnya.(Kompas, Februari 2010).
Setelah selesai acara ritual tersebut, dilanjutkan dengan makan "saprahan" di Istana Amantubillah, selain itu menyuguhkan menu makanan dan minuman khas keratin. Dalam acara itu juga disuguhkan aneka hiburan tradisional Mempawah, seperti Tundang (Pantun Berdendang), Japin, Gurindam dan lain sebagainya. Dalam setiap perayaan ritual Robo’-
Robo’, selalu diadakan makan “Saprahan” atau makan bersama.Tidak seperti kegiatan makan bersama kebanyakan, pada makan “saprahan” ini semua warga tua-muda melakukannya di bawah naungan langit terbuka. Kegiatan makan bersama ini digelar di halaman rumah. Konon katanya, Opu Daeng Manambon datang di Kuala Mempawah disambut oleh Pangeran Adipati dengan upacara makan “saprahan”. Dalam penyajiannya, semua lauk-pauk dihidangkan dalam sebuah baki atau penampan besar. Satu “saprah” biasanya diperuntukan untuk empat atau lima orang. Perjamuan ini pada zaman dulu dilaksanakan di alam terbuka, tepatnya di tepi Sungai Mempawah, tempat yang terdapat 40 kapal layar Bugis yang membawa Opu Daeng Menambon bersandar. Adapun rute perjalanan rombongan Opu Daeng Menambon ini adalah dari perairan Kuala Sungai Mempawah di Desa Benteng menuju ke Muara Sungai Mempawah, berbeda dengan masyarakat yang bukan keturunan dari keraton Mempawah tetapi bersuku Bugis dan Melayu.
Pada waktu malam, hari Rabu para ibu rumah tangga di kota Mempawah sibuk dengan tugas masak-memasak untuk keperluan keesokan harinya. Sementara itu, para tetua kampung menyelenggarakan sesajian untuk diantar ke Sungai Mempawah. Nasi dan lauk-pauk dihidangkan diatas tikar untuk makan sekeluarga dan sahabat yang diundang. Pukul 07.00 atau 08.00 Upacara Kenduri dimulai. Tetua kampung pun membacakan do’a selamat dan do’a tolak bala, selesai membaca do’a makanlah sekeluarga didalam satu gang bersama-sama. Selesai makan, Upacara Kenduri pun selesailah dan gang itu dikemaskan kembali sampai bersih.Pada zaman kini upacara ritual mandi Safar masih tetap dilaksanakan dengan berkumpulnya beberapa orang, baik dari pihak keluarga tertentu maupun pihak keluarga lainnya pada suatu tempat yang sudah ditentukan bersama, mereka saling kenal sehingga terjadi interaksi antarwarga dan tidak menutup kemungkinan terjadinya asimilasi dari berbagai suku yang ada. Kegiatan Upacara Ritual Mandi Safar kini tidak hanya pada masyarakat suku Melayu akan tetapi ada juga dari suku-suku pendatang lainnya yang ikut membaur dan beradabtasi dengan lingkungan, seperti rasa solidaritas sesama warga yang mengadakan ritual tersebut.
A. Manfaat dan Tujuan Ritual Robo’-Robo’
Kegiatan ini banyak terdapat manfaat-manfaat yang kita anggap tidak terlalu penting, tetapi terlihat dalam beberapa kegiatan adanya Saprahan yang akan membangun rasa simpati terhadap sesama, terlebih pula untuk mempererat tali silaturrahmi bagi para peserta yang mengikuti tradisi ini. Robo’-Robo’ bagi sebagian masyarakat lokal menjadi berkah tersendiri untuk mendulang rupiah, mereka berjualan berbagai produk di deretan kios di sekitar lokasi yang berubah menjadi pasar kaget. Biasanya mereka berjualan seminggu sebelum dan sesudah pelaksanaan Robo’-Robo’. (Iman – Wisatanet.com, Maret 2007)
Arti lambang dalam kegiatan Upacara Robo’-Robo’ antara lain;
a. Perahu lancang kuning melambangkan perahu raja-raja Kesultanan Mempawah yang dipakai oleh para kaum kerabat kerajaan Mempawah.
b. Beras kuning melambangkan emas dan bertih melambangkan perak. Menabur beras dan bertih melambangkan, agar para leluhur turut hadir di dalam upacara adat tersebut.
c. Sesajian lauk-pauk dengan air melambangkan untuk para makhluk yang menjaga wilayah perairan.
d. Memasak dipantai Kuala Mempawah melambangkan rombongan Opu Daeng Manambun untuk mempersiapkan makan di daerah Sungai Mempawah.
e. Lantunan suara azan di Sungai Mempawah melambangkan pertama kali rombongan Opu Daeng Manambun mengumandangkan azan di wilayah Mempawah.
f. Air tolak bala dan air Salamun Tujuh melambangkan upaya manusia untuk menolak bala bencana yang mengancam kehidupan.
g. Kuntum bunga mawar melambangkan wewangian para leluhur untuk ditaburkan pada makam.
h. Air tepung tawar melambangkan penawaran bagi segala bencana yang datang.
i. Ketupat melambangkan bebasnya manusia dari bencana.
j. Upacara dipinggiran sungai melambangkan agar mendapatkan keselamatan dari bencana yang datang dari arah laut.
Beberapa hal yang ingin dicapai dengan diselenggarakannya upacara ini ialah :
1. Memperingati peristiwa historis penting bagi kerajaan Mempawah yaitu tentang kedatangan pendaratan pertama Opu Daeng Manambon di wilayah Mempawah. Peristiwa lain yang diperingati ialah wafatnya Opu Daeng Manmbon pendiri kerajaan Mempawah pada hari selasa bulan syafar tahun 1766.
2. Memohon ampun dan memohon pertolongan kepada tuhan yang maha kuasa agar seluruh warga masyarakat diselamatkan dari bala bencana yang banyak diturunkan pada setiap bulan syafar.
3. Pemujaan dan penghormatan kepada para leluhur, khusunya para panembahan Mempawah yang telah memimpin dan mengembangakan wilayah kerajaan Mempawah, agar diampunkan dosa-dosanya dan dibalas jasa-jasanya oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksud lain dari penyelenggaraan upacara ini ialah untuk mengusir para roh jahat yang mengganggu kehidupan masyarakat.
4. Perkembangan selanjutnya, Robo’-Robo’ diselenggarakan untuk mengikuti adat-istiadat yang telah turun-temurun.
B. Hubungan Robo’-Robo’ dengan multikultural Sebagai Nilai Kearifan Lokal
1.9. Gambar 9. Foto Satu Diantara Keunikan yang Memunculkan Banyak Suku
Ritual Robo’-Robo’ mempresentasikan hubungan manusia dengan manusia, alam dan Sang Pencipta, setiap ritual yang dilakukan syarat dengan makna dan filosofi. Ada berbagai pelajaran mengenai kondisi dan hubungan yang saling terkait. Juga relasi dan antara seluruh isi bumi. Bagi masyarakat Mempawah, kedatangan Opu Daeng yang juga menjadi cikal bakal lahirnya kerajaan Mempawah, mempunyai arti tersendiri bagi eksistensi dan keberlangsungan masyarakat Bugis di Kalbar.
Kegiatan Robo’-Robo’ merupakan suatu tradisi yang mengangkat nilai kearifan lokal dari kegiatan yang berurpa gotong-royong serta saling bahu-membahu untuk menyukseskan acara tersebut. Selain itu, banyaknya warga yang mengikuti ritual Robo’-Robo’ untuk memperingati kedatangan Opu Daeng Menambon ke Kota Mempawah yang dipusatkan di Desa Kuala Mempawah, Kabupaten Pontianak, memperjelas dengan banyaknya partisipasi para masyarakat dari semua kalangan. Puluhan raja, ratu dan kerabat keraton dari 13 keraton se-Nusantara juga hadir untuk mengikuti ritual yang dilangsungkan bersamaan dengan Pergelaran Seni Budaya Keraton Nusantara (PSBKN) ke-II tersebut (Kapan Lagi.com, 2007).
Tidak sekedar datang, dalam rombongan yang ada, turut serta berbagai komunitas dan suku bangsa. Berbagai komunitas itu, menyatu dalam berbagai tugas dan fungsi. Ini juga yang menjadi simbol interaksi dan pembauran yang sudah terjadi sejak dulu. Dalam memperingati dan melakukan ritual Robo’-Robo’, selain memperingati ritual dan budaya Robo’-Robo’, yang tak kalah penting adalah mengingatkan kembali arti penting dari relasi komunitas dan etnisitas yang begitu harmonis dan terjalin. Sehingga, pembauran yang terjadi bukan pembauran yang sifatnya insidental dan penuh rekayasa politik, namun sebuah pembauran alami dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh sebuah kepentingan politik tertentu.
Panitia pun telah mengundang semua keraton yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam dan Singapura untuk menghadiri perayaan tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjalin tali persaudaraan dengan negara tetangga melalui sebuah tradisi yang identik dengan budaya mereka. Bagi warga keturunan Bugis di Kalbar, Robo’-Robo’ biasanya diperingati dengan makan bersama keluarga di halaman rumah. Tidak hanya di rumah, makan bersama juga dilakukan oleh siswa di berbagai sekolah baik tingkat SD - SMU pada Rabu pagi.
Sementara Mantan Gubernur Kalbar, Usman Jafar mengatakan, kegiatan Robo’-Robo’ menjadi even budaya lokal yang berkembang ke tingkat nasional. "Kegiatan Robo’-Robo’ merupakan budaya yang perlu dikembangkan karena telah dilakukan secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam," tuturnya. Mempawah berjarak sekitar 67 kilometer sebelah utara Pontianak. Setelah melalui berbagai perubahan dan perkembangan, Mempawah kini menjadi Ibu Kota Kabupaten Pontianak. (*/rsd).
Selain itu, acara tambahan pihak panitia juga menggelar kirab benda-benda pusaka Kerajaan Amantubillah, setelah itu benda yang telah diarak keliling Kota Mempawah menjalani ritual pembersihan di Keraton Amantubillah. Pelaksanaan teknis upacara dilaksanakan oleh sebuah panitia yang dibentuk secara resmi oleh Pemda setempat. Upacara ini mempunyai pengaruh yang cukup luas bagi kalangan masyarakat dengan seluruh penduduk Kabupaten Pontianak yang merasa ikut terlibat didalamnya, maka demi kesatuan sosial, upacara ini diangkat menjadi upacara daerah. Panitia pelaksana terdiri dari berbagai unsur potensi daerah seperti Pemda setempat, tokoh agama, TNI, pemuda dan lain-lain.Panitia ini bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan bertanggung jawab atas pelaksaannya. Para tokoh agama bertugas untuk membimbing, mengatur dan melaksanakan upacara-upacara dilingkungannya, TNI bertanggung jawab atas keamanannya dan pemuda untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan lomba dan lainya.Selain panitia resmi tersebut, para keluarga kerajaan yang mewarisi kerajaan itu mempunyai fungsi teknis dalam kegiatan upacara, fungsinya seolah-olah sebagai penghubung antara alam manusia dengan arwah para leluhur. Hubungan antara manusia dengan para makhluk tersebut dapat dilakukan oleh keluarga kerajaan itu. Dalam upacara ini para makhluk halus tersebut harus diberitahu agar tidak jahat kepada manusia.
Dilanjutkan dengan penyusunan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, serta rincian pembiayaannya. Demikian pula mengenai pembuatan sesajian umum, biasanya dikumpulkan dari setiap rumah tangga. Para tokoh masyarakat, para tua-tua kampung dan lurah-lurah desa bertugas untuk mengarahkan masa dan menghimpun dana serta mengatur pelaksanaanya.Tidak hanya di Kota Mempawah, peringatan Robo’-Robo’ juga diperingati di beberapa tempat seperti di Kecamatan Segedong Kabupaten Pontianak, Kecamatan Sungai Kakap dan Kecamatan Teluk Pakedai Kabupaten Kubu Raya. Hal itu, menurut Mardan merupakan sebagai pelestarian sejarah bahwa tempat-tempat tersebut pernah disinggahi pendiri Kota Mempawah yang hingga kini makamnya masih terawat dan sering dikunjungi oleh para penziarah yang datang dari berbagai tempat. (Harian Berkat, Mempawah, 2008).Dibalik kisah bersejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, sesungguhnya tersimpan nilai-nilai moral yang amat tinggi, satu diantaranya adalah terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya. “Lewat makan bersama, semua persoalan yang rumit Insya Allah menjadi mudah untuk dipecahkan. Melalui kegiatan makan bersama, secara tidak langsung tercipta sebuah jalinan komunikasi langsung,” menurut pendapat Mardan Adijaya.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang sudah diuraikan di atas, diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Upacara ziarah memiliki manfaat untuk dapat mengingatkan kita kepada Yang Kuasa, serta mengenang jasa-jasa Opu Daeng Manambon dan turut mendo’akannya. Pada Upacara Kenduri, melambangkan adanya rasa saling gotong-royong dalam mengisi runtutan acara dalam Tradisi Robo’-Robo’. Acara makan “saprahan” melambangakan rasa kebersamaan dan solidaritas antar sesama. Mandi Safar melambangkan hakikat pensucian diri dan mengambil berkah dari apa yang pernah dirasakan oleh Nabi dan Rasul.
2. Dibalik kisah bersejarah kedatangan Opu Daeng Menambon ke Mempawah, sesungguhnya tersimpan nilai-nilai moral yang amat tinggi, satu diantaranya adalah terciptanya rasa kebersamaan antara raja dengan rakyatnya, para petinggi dan bawahan, orang kaya dengan orang miskin dan lain sebagainya.
B. Saran
Ada beberapa saran yang perlu disampaikan berdasarkan hasil penyusunan karya tulis ini:
1. Untuk pemerintah, hendaknya lebih memperhatikan beberapa kegiatan kebudayaan untuk dilestarikan, karena pada era globalisasi ini banyak sekali generasi muda yang sudah tidak lagi perduli dengan kebudayaan sendiri.
2. Untuk masyarakat yang heterogen hendaknya lebih memperhatikan nilai-nilai budaya serta tradisi-tradisi untuk mengurangi konflik multikultural.
3. Untuk penyusunan karya ilmiah selanjutnya, penulis mengharapkan dapat menggunakan partisipan yang lebih banyak lagi sehingga hasil penelitian tersebut dapat berlaku general. Selain itu, diperlukan banyak informan dari para maestro, sehingga perolehan data juga sangat akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1983/1984. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Kalbar. Proyek IDKD. Kalimantan Barat.
Pertama, Putra. 2008. Multikulturalisme. Makalah, http:// my. opera. com/ Putra% 20Pratama/ blog/ show.dml/2743875. Tanggal Dikunjungi 12 Februari 2010.
Pringgo. 2008. Menilik Ritual Robo’-Robo’ dari Masa ke Masa, http:// satriopringgodigdo. blogspot. com/2008/03/ menilik-ritual-robo-robo-dari-masa-ke. html . Tanggal Dikunjungi 8 Maret 2010.
Natsir,M. dkk. 2007. Upacara Adat Suku Melayu Kabupaten Pontianak Mampawah Kalbar. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Jakarta
Sigit. 2010. 8 Hingga Februari 2010 Positif Pelaksanaan Robo’-Robo’. http://www.rripontianak. Com / 2009 /02 /RRI. dok.htm. Tanggal Dikunjungi 26 Februari 2010.
Sigit. 2009. Pemprov Terus Dukung Tradisi Robo’-Robo’. http://www.rripontianak.com/2009/ 02/pemprov-terus-dukung-tradisi-robo-robo/ . Tanggal Dikunjungi 28 Februari 2010.
Siswanto, Iwan. 2009. Melestarikan Budaya Robo’-Robo’, http://www.borneotribune. com/ melestarikan-budaya-robo-robo.html . Tanggal Dikunjungi 17 Maret 2010.
Suhaeri, Muhlis. 2008. Robo’-Robo’ Wisata Budaya Negeri di Opu Daeng Manambon, http://muhlissuhaeri. blogspot. com/ 2008/ 04/ roborob. html. Tanggal Dikunjungi 5 Maret 2010.
Wahyudi, Johan. 2010. Robo’-Robo’ sebagai Daya Ungkit Pembangunan. http://borneotribune.com/headline/robo-robo-sebagai-daya-ungkit-pembangunan.html. Tanggal Dikunjungi 13 Februari 2010.
2004, Robo’-Robo’, Tradisi Bernuansa Bone di Kalbar, http:// berita.liputan6.com/daerah/200404/76279/class='vidico'. Tanggal Dikunjungi 23 Februari 2010.
2007, Raja Mempawah Pimpin Ritual Robo-robo Peringati Opu Daeng Menambon, http:// www.kapanlagi.com/h/0000162332_print.html. Tanggal Dikunjungi 2 Maret 2010.
2008, Robo'-Robo' Napak Tilas Kedatangan Opu Daeng Manambon, http:// www.harianberkat.com/index.php?option=com_content&task=view&id=140. Tanggal Dikunjungi 12 Februari 2010.
2008 .Tradisi dan Budaya sebagai Sumber Ahlak dan Budi Pekerti, http:// cari- disini-aja. blogspot. com/ 2008/ 12/ tradisi- dan- budaya- sebagai- sumber. html. Tanggal Dikunjungi 25 Februari 2010.
2009. Robo’-Robo’ Budaya Melayu Mempawah. http://pernikkhatulistiwa. blogspot. com/2009/01/robo-robo-budaya-melayu-mempawah.html. Tanggal Dikunjungi 29 Februari 2010.
2009. Multikulturalisme Peluang Kebangkitan Budaya Lokal, http://melayuonline. com/multikulturalisme-peluang-kebangkitan-budaya-lokal. htm. Tanggal Dikunjungi 8 Maret 2010.
2010, Perayaan Robo’-Robo’ di Keraton Amantubillah, http://INILAH.COM - Perayaan Robo-robo di Keraton Amantubillah.htm . Tanggal Dikunjungi 2 Maret 2010.
2010, Kerajaan Amantubillah Gelar Perayaan Robo’-Robo’, http://www.kompas. com/Kerajaan. Amantubillah. Gelar. Perayaan. Robo-robo.htm. Tanggal Dikunjungi 23 Februari 2010.
2010. Sejarah Robo’-Robo’. http://www.pontianak.web.id/pontianak/sejarah-robo-robo.html. Tanggal Dikunjungi 28 Februari 2010.
Sabtu, 05 Februari 2011
Makam Sultan Suriansyah Banjarmasin
Komplek Makam Sultan Suriansyah
By. M.Natsir.
• Komplek Makam Sultan Suriansyah adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang.
• Sejarah pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah
Studi kelayakan dalam rangka pemugaran dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin Drs. Machi Suhadi dengan biaya dari Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan 1982/1983.Kegiatan Pemugaran Pemugaran situs dimulai tahun 1984/1985. Sasaran pokonya ialah memugar makam-makam kuno dan pentrasiran pondasi batu bata,Pemugaran makam kuno terurai atas kegiatan: memperkuat pagar bagian bawah dengan slof beton, membersihkan dan membetulkan letak nisan makam, memperkuat dan merapikan letak marmer makam, memperbaiki ukira-ukiran yang rusak dan mengembalikan cat makam seperti warna semula.Kegiatan pentrasiran menampakan adanya dua kelompok susunan batu bata/tanggul dengan warna yang berbeda. Kelompok tanggul dengan batu bata merah merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Suriansyah dan Ratu, makam Khatib Dayan, makam Patih Masih, makam Patih Kuin, Makam hulubaklang raja dan lain-lain. Kelompok tanggul ini terdapat pada bagian barat dengan ukuran 17 x 17 meter.Kelompok tanggul dengan batu bata putih merupakan pengaman bagi kestabilan makam Sultan Rahmatullah dan Makam Sultan Hidayatullah. Kelompok tanggul ini terdapat di bagian timur dengan ukuran 17 x 17 meter. Pada bagian timur sisi selatan ditemukan susunan tanggul batu bata putih yang diberi hiasan/ukiran.
Pemugaran situs tahun 1985/1986 diarahkan pada kegiatan penyusunan kembali batu bata tanggul dan membangun cungkup yang baru menggantikan cungkup lama yang didirikan pada tahun 1985.
• Tokoh-Tokoh yang dimakamkan
Sultan Suriansyah, berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Ia merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550, berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang. Menurut M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.
Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja (berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada awal abad ke-16.
Sultan Rahmatullah, putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570. Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Ia bergelar Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan. Khatib Dayan. Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Ia menyampaikan syiar-syiar Islam dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Ia seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.
Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat. Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa sangat akrab dan baik. Ia meninggal pada awal abad ke-16. Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana, berani dan sakti. Ia memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun. Ia keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah satu anggota Manteri Ampat. Ia meninggal sekitar awal abad ke-16.
Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Ia seorang panglima perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang Kerajaan. Ia meninggal pada awal abad ke-16. Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Ia meninggal pada tahun 1640. Haji Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Ia menikah dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar. Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Ia meninggal pada tahun 1825.
Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga. Ia sangat disayangi raja dan dipercaya. Ia meninggal pada tahun 1630.
Pangeran Muhammad, adalah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Ia meninggal pada tahun 1645.
Sayyid Ahmad Iderus, adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Ia menyampaikan syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau). Ia meninggal pada tahun 1681.
Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Ia kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Ia meninggal pada thaun 1938.
Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri). Ia meninggal pada tahun 1681. Anak Tionghoa Muslim. Pada permulaan abad ke-18, seorang Tionghoa datang berdagang ke Banjarmasin. Ia berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti. Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek makam Sultan Suriansyah.
Adat Tepung Tawar Melayu Sambas
Tepung Tawar
By.Erma
Editor.M.Natsir
Adat dan upacara adat yang disebut Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk adat dari sekian banyak bentuk adat berserta upacaranya, yang sejak ratusan tahun silam telah di kenal dan diapresiasi cukup baik oleh masyarakat Melayu Sambas. Tepung Tawar mulai dikenal masyarakat Malayu Sambas, belum di dapatkan data yang jelas. Namun bila disimak dari pelaksanaan upacaranya, acara tepung tawar ini mulai sejalan dangan mulai pesatnya ajaran agama Islam yang di sebarkan ke daerah ini oleh para mubaliq, baik yang datang dari Arab, Sumatera, Malaysia, Thailand (patani), dan pulau-pulau lainnya.
Upacara adapt Tepung Tawar terdapat juga pada masyarakat didaera Melayu Pontianak, Mempawah, Ngabang, Ketapang, Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Fungsi dan tujuan Tepung Tawar senantiasa menunjukkan persamaan, apabila terdapat perbedaan, kemungkinan dalam sebutan atau dialok bahasa setempat.
Kata Tepung Tawar kalau ditinjau dari bahasa Indonesia terdiri dari kata Tepung dan kata Tawar yang bermakna tepung yang rasanya tawar dan tidak asin. Memang salah satu perlengkapan Tepung Tawar terdiri dari tepung beras tersebut. Tetapi didalam bahasa Melayu Sambas kata ”tawar” mendekati kata “jampi” atau “mantra” bukan lawan kata asin “air tawar” bermakna air yang telah di jampi atau dibacakan doa oleh tetua-tetua kampong.
A. Tepung Tawar
Acara dan upacara Tepung Tawar olah masyarakat Melayu Sambas dilakukan dlam berbagai kegiatan. Pada umumnya meliputi siklus daur) kehidupan manusia,artinya Tepung tawar dilakukan pada saat pelaksanaan perkawinan, saat si Ibu melahirkan anak pertamanya. Dan pada saat sebuah keluarga mendapat musibah meninggal dunia. Pada masa-masa tertentu. Yaitu terjadinya kejadian atau pristiwa sangat penting dalam masyarakat Melayu Sambas juga dilakukan acara Tepung Tawar. Contoh beberapa kejadian atau pristiwa penting secara singkat diuraikan sebagai berikut.
1. Pada pelaksanaan perkawinan, Tepung Tawar dilakukan terhadap kedua pengantin, yang dilakukan pada hari ketiga setelah hari pesta kawin. Setelah Tepung Tawar dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara adat “mandi bululus” dan acara “balik tikar”
2. Calon ibu yang kehamilan pertamanya memasuki usia tujuh bulan dan usia sembilan bulan, melakukan Tepung Tawar tujuh bulan. Tepung Tawar sembilan bulan (disebut juga”Tepung Tawar”atau “Belenggang”) ketika sang bayi berusia 40 hari dilakukan pada acara Tepung Tawar bayi dan kedua suami-istri.
3. Bila ada keluarga yang menempati rumah baru (pindah rumah maka di lakukan pula acara Tepung Tawar)
4. Tepung Tawar dilaksanakan juga bila ada anak laki-laki yang akan dikhitan.
5. demikian juga keluarga yang salah seorang anggota keluarganya meninggal, pada hari-hari tertentu setelah hari penguburan akan dilaksanakan acara Tepung Tawar bagi keluarga yang ditinggalkan.
Maksud dan fungsi mengadakan acara Tepung Tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, yang tentunya di tunjukkan krpada Allah Swt. Yang menciptakan manusia dan alam raya. Inilah barang kali tujuan pokok, disamping adanya tujuan lain yang tersirat dari upacara Tepung Tawar tersebut. Pada akhir dari acara Tepung Tawar senantiasa dipanjatkan doa selamat oleh tokoh dan tua-tua kampong.
B. Pelaksanaan Tepung Tawar
Manjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, tenaga pelaksanaan, dan lain-lain. Berikut ini uraian secara ringkas hal-hal yang harus ada dan dipersiapkan dalam ritual Tepung Tawar tersebut.
1. Waktu pelaksanaan tepung tawar umumnya pada baiyi atau pada sing hari, bertempat dirumah atau orang yang hajatan. (bersangkutan)
2. Pelaksanaannya terdiri antara lain :
a. Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari.
b. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-ribu.
c. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda.
d. Beras kuning secukupnya.
e. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk.
Orang di minta untuk melaksanakan Tepung Tawar disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan di sebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3,5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat. Kalau dilakukan laki-laki atau perempuan maka jumlahnya di atur, misalnya kalau lima orang, dibagi 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Kalau Pemappas sebanyak 7 orang dapat di bagi lima laki-laki, dua orang perempuan atau 3 orang perempuan dan empat orang laki-laki, dan seterusnya. Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk.
Setelah sesuatu lengkap dan maka acara Tepung Tawar dilaksanakan. Untuk pelaksanaan penulis mengambil contoh acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Acara ini biasanya dilaksanakan pada hari jumat pagi. Pada malam jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Pada saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu di sungguhi jamuan berupa nasi, kue-kue sop kimlo, besok paginya tetamu yang hadir tersebut di manta untuk hadir pula sekitar pukul 5.30 WIB atau pukul enam pagi.
Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang ibu di samping bapak, di kiri atau kanan duduk anak-anak mereka . Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang di pakai bebas, rapi, dan bersih. Kopiah yang di pakai di tanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.
Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang ,ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si Bapak, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si Ibu, anak tertua, dan anak berikut sehingga selesai.
Setelah memappas maka si Bapak, Ibi, dan anak-anak ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga, keempat, dan seterusnya sesuai dengan jumlah pemappasan yang telah ditentukan.
Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pyla memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiag sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ketempat khusus di belakang rumah.
Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi ituselalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Diadatkan pula untuk tetep menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, dan bertih yang diberi gulla merah. Minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.
Secara garis besar dan umum dilakukan adalah seperti acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Pada acara Tepung Tawar pengantin mandi belullus acara tambahan adalah meniup Tawar yang diletakkan di dalam “dulapan” berisi beras, padi, gula pasir, kelapa, dan lain-lain. Lilin sebanyak 5 sampai 7 buah ditiupkan secara bersamaan oleh kedua pengantin. Setelah itu di lanjutkan dengan mandi bersama yang dilakukan siraman oleh beberapa “tukang siram” dari para tetamu yang di undang.
Pada acara ini salah seorang penyiram melakukan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Setelah ia melakukan siraman satu atau dua kali, Siraman ketiga bukan ditujukan kepada kedua pengantin tetapi diarahkan dan ditujukan kepada tetamuyang menyaksikan. Tentu saja tetamu yang terkena siraman iar basah kuyup dan ia pun secara spontan mengambil gayung dan menyiram tetamu yang belum terkena siraman. Suasana menjadi ramai dan tawa berkepanjangan.
Selesai acara mandi-mandi ini, dilanjutkan dengan lagi acara “balik tikar” dengan tata cara tertentu pula. Tepung Tawar pengantin jamuan yang di hidangkan biasanya berdentuk makan nasi “bersaprah” (makan beregu).
Pada Tepung Tawar kehamilan pertama berusia tujuh bulan yang ditepung tawari adalah si Ibu yang hamil. Pada acara Tepung Tawar kehamilan berusia atau memasuki usia sembilan bulan, Tepung Tawar ini disebut “Belenggang atau Tepung Tawar Minyak”. Sebelum ditepung tawari cara biasa, si Ibu berbaring diatas tempat tidur ber Alaskan kain batik. Seorang bidan (dukun beranak) yang telah di “tampah” lama sebelumnya mengurut-urut perut si Ibu. Selesai urutan pertama, kain batik pertama diambil demikian dilakukan sampai ketujuh kain ditarik dari alas si Ibu.
Pada saat itu, adapt Tepung Tawar Belenggang sudah jarang dilakukan. Tepung Tawar setelah si bayi berusia empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan dengan acara “injak bumi” juga agak jarang dilakukan. Hal ini tidak dilakukan lagi mungkin disebabkan banyaknya perlrngkapan yang diperlukan, misalnya tanah yang akan diinjak si bayi haruslah tanah yang di ambil dimekah, saat orang naik haji.
C. Adat Tepung Tawar ke Depan
Bentuk aspek seni budaya dapat hilang atau mati karena kehilamhan fungsinya dalam masyarakat pendukung. Hilangnya fingsi tersebut karena factor internal dan eksternal, factor ekternal karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup membawa pengaruh dalam budaya lokal sehingga terjadi gesekan dan benturan yang berdampak negative, seperti perubahan nilai-nilai, pola piker dan pola tingkah laku dalam hidup bermasyarakat dan budaya.
A.Muin Ikram. 2004. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Sanbas. Naskah.
Sambas : MABM Sambas.
Aghimsa. Tt. Adat Kawin Melayu Sambas. Pontianak: Yayasan Penulis 66.
By.Erma
Editor.M.Natsir
Adat dan upacara adat yang disebut Tepung Tawar merupakan salah satu bentuk adat dari sekian banyak bentuk adat berserta upacaranya, yang sejak ratusan tahun silam telah di kenal dan diapresiasi cukup baik oleh masyarakat Melayu Sambas. Tepung Tawar mulai dikenal masyarakat Malayu Sambas, belum di dapatkan data yang jelas. Namun bila disimak dari pelaksanaan upacaranya, acara tepung tawar ini mulai sejalan dangan mulai pesatnya ajaran agama Islam yang di sebarkan ke daerah ini oleh para mubaliq, baik yang datang dari Arab, Sumatera, Malaysia, Thailand (patani), dan pulau-pulau lainnya.
Upacara adapt Tepung Tawar terdapat juga pada masyarakat didaera Melayu Pontianak, Mempawah, Ngabang, Ketapang, Sintang, Sanggau dan Kapuas Hulu. Fungsi dan tujuan Tepung Tawar senantiasa menunjukkan persamaan, apabila terdapat perbedaan, kemungkinan dalam sebutan atau dialok bahasa setempat.
Kata Tepung Tawar kalau ditinjau dari bahasa Indonesia terdiri dari kata Tepung dan kata Tawar yang bermakna tepung yang rasanya tawar dan tidak asin. Memang salah satu perlengkapan Tepung Tawar terdiri dari tepung beras tersebut. Tetapi didalam bahasa Melayu Sambas kata ”tawar” mendekati kata “jampi” atau “mantra” bukan lawan kata asin “air tawar” bermakna air yang telah di jampi atau dibacakan doa oleh tetua-tetua kampong.
A. Tepung Tawar
Acara dan upacara Tepung Tawar olah masyarakat Melayu Sambas dilakukan dlam berbagai kegiatan. Pada umumnya meliputi siklus daur) kehidupan manusia,artinya Tepung tawar dilakukan pada saat pelaksanaan perkawinan, saat si Ibu melahirkan anak pertamanya. Dan pada saat sebuah keluarga mendapat musibah meninggal dunia. Pada masa-masa tertentu. Yaitu terjadinya kejadian atau pristiwa sangat penting dalam masyarakat Melayu Sambas juga dilakukan acara Tepung Tawar. Contoh beberapa kejadian atau pristiwa penting secara singkat diuraikan sebagai berikut.
1. Pada pelaksanaan perkawinan, Tepung Tawar dilakukan terhadap kedua pengantin, yang dilakukan pada hari ketiga setelah hari pesta kawin. Setelah Tepung Tawar dilaksanakan, dilanjutkan dengan acara adat “mandi bululus” dan acara “balik tikar”
2. Calon ibu yang kehamilan pertamanya memasuki usia tujuh bulan dan usia sembilan bulan, melakukan Tepung Tawar tujuh bulan. Tepung Tawar sembilan bulan (disebut juga”Tepung Tawar”atau “Belenggang”) ketika sang bayi berusia 40 hari dilakukan pada acara Tepung Tawar bayi dan kedua suami-istri.
3. Bila ada keluarga yang menempati rumah baru (pindah rumah maka di lakukan pula acara Tepung Tawar)
4. Tepung Tawar dilaksanakan juga bila ada anak laki-laki yang akan dikhitan.
5. demikian juga keluarga yang salah seorang anggota keluarganya meninggal, pada hari-hari tertentu setelah hari penguburan akan dilaksanakan acara Tepung Tawar bagi keluarga yang ditinggalkan.
Maksud dan fungsi mengadakan acara Tepung Tawar ini adalah untuk memohon keselamatan dan terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan, yang tentunya di tunjukkan krpada Allah Swt. Yang menciptakan manusia dan alam raya. Inilah barang kali tujuan pokok, disamping adanya tujuan lain yang tersirat dari upacara Tepung Tawar tersebut. Pada akhir dari acara Tepung Tawar senantiasa dipanjatkan doa selamat oleh tokoh dan tua-tua kampong.
B. Pelaksanaan Tepung Tawar
Manjelang pelaksanaan Tepung Tawar, diperlukan persiapan, perlengkapan, tenaga pelaksanaan, dan lain-lain. Berikut ini uraian secara ringkas hal-hal yang harus ada dan dipersiapkan dalam ritual Tepung Tawar tersebut.
1. Waktu pelaksanaan tepung tawar umumnya pada baiyi atau pada sing hari, bertempat dirumah atau orang yang hajatan. (bersangkutan)
2. Pelaksanaannya terdiri antara lain :
a. Satu buah mangkok putih tempat tepung beras yang telah di hancurkan dengan air tolak bala, yaitu segelas air putih yang di bacakan doa tolak bala. Selain untuk menghancurkan tepung beras, air tawar tolak bala digunakan juga untuk diminum atau untuk disiramkan di kepala yang ditepung tawari.
b. Beberapa helai daun lenjuang ungu, daun mentibar (disebut daun ntibar), dan beberapa helai daun ribu-ribu.
c. Sebentuk cincin emas atau perak, terutama pada tepung tawar mandi belulus pengantin. Cincing tersebut diikatkan pada anyaman daun kelapa muda.
d. Beras kuning secukupnya.
e. Sebuah talam kecil tempat meletakkan mangkuk.
Orang di minta untuk melaksanakan Tepung Tawar disebut “Tukang Pappas”. Pelaksanaan di sebut “mappas”. Tukang Pappas ini biasanya orang-orang tua di kampung, keluarga tua terdekat, dan lain-lain. Jumlah tukang pappas selamanya ganjil, misalnya 3,5 atau 7 orang. Jumlah ganjil ini memang telah ditentukan adat. Kalau dilakukan laki-laki atau perempuan maka jumlahnya di atur, misalnya kalau lima orang, dibagi 3 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Kalau Pemappas sebanyak 7 orang dapat di bagi lima laki-laki, dua orang perempuan atau 3 orang perempuan dan empat orang laki-laki, dan seterusnya. Tiga jenis daun tersebut di atas diikat dijadikan satu berikut cincin, diletakkan disamping mangkuk berisi air tupung beras. Beras kuning dimasukkan kedalam gelas kecil, diletakkan di samping mangkuk.
Setelah sesuatu lengkap dan maka acara Tepung Tawar dilaksanakan. Untuk pelaksanaan penulis mengambil contoh acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Acara ini biasanya dilaksanakan pada hari jumat pagi. Pada malam jumat biasanya dilakukan pembacaan surat yasin oleh para tamu. Pada saat selesai membaca surat yasin dan doa maka tamu di sungguhi jamuan berupa nasi, kue-kue sop kimlo, besok paginya tetamu yang hadir tersebut di manta untuk hadir pula sekitar pukul 5.30 WIB atau pukul enam pagi.
Keluarga yang pindah rumah duduk dilantai beralaskan tikar. Sang ibu di samping bapak, di kiri atau kanan duduk anak-anak mereka . Posisi duduk dengan melonjorkan kedua kaki ke depan. Busana yang di pakai bebas, rapi, dan bersih. Kopiah yang di pakai di tanggalkan dan kedua tangan di atas lutut dengan tapak tangan terbuka.
Setelah siap maka tibalah orang pertama Tukang Pappas melaksanakan tugasnya. Mangkuk berisi air tepung beras dipegang dengan tangan kiri, yangan kanan memengan ikatan daun lenjuang ,ntibar, daun ribu-ribu. Ikatan daun dicelupkan kedalam mangkuk, kemudian dengan perlahan-lahan dipukul-pukulkan ke bahu kanan dan kiri si Bapak, kemudian dipukulkan pada kedua tapak tangan, setelah itu, pada kedua kaki. Hal yang sama dilakukan juga kepada si Ibu, anak tertua, dan anak berikut sehingga selesai.
Setelah memappas maka si Bapak, Ibi, dan anak-anak ditaburi beras kuning pada kepalanya. Setelah selesai tukang pappas pertama, dilanjutkan oleh Tukang Pappas kedua, dilanjutkan oleh Tukang Pappas ketiga, keempat, dan seterusnya sesuai dengan jumlah pemappasan yang telah ditentukan.
Tukang Pappas terakhir sedikit berbeda dengan Tukang Pappas sebelumnya. Pappasan terakhir, setelah melakukan pappasan seperti Pemappasan terdahulu, Pemappasan terakhir harus pyla memappas bagian-bagian rumah yang dipindahi, yaitu memeppas keempat sudut (tiag sudut) rumah, dimulai dari sudut kanan luar rumah, kemudian menuju ke belakang rumah. Setelah selesai, daun (ikatan daun) dan air tepung tawar dibuang ketempat khusus di belakang rumah.
Keluarga yang ditepung tawari diberi minum air tolak bala kemudian mandi. Suguhan jamuan pada pagi ituselalu berupa kue-kue sebanyak 5 sampai 8 macam. Diadatkan pula untuk tetep menyuguhkan kue apam beras, ketupat ketan, dan bertih yang diberi gulla merah. Minumannya selalu manis seperti kopi atau kopi susu.
Secara garis besar dan umum dilakukan adalah seperti acara Tepung Tawar pindah rumah baru. Pada acara Tepung Tawar pengantin mandi belullus acara tambahan adalah meniup Tawar yang diletakkan di dalam “dulapan” berisi beras, padi, gula pasir, kelapa, dan lain-lain. Lilin sebanyak 5 sampai 7 buah ditiupkan secara bersamaan oleh kedua pengantin. Setelah itu di lanjutkan dengan mandi bersama yang dilakukan siraman oleh beberapa “tukang siram” dari para tetamu yang di undang.
Pada acara ini salah seorang penyiram melakukan sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Setelah ia melakukan siraman satu atau dua kali, Siraman ketiga bukan ditujukan kepada kedua pengantin tetapi diarahkan dan ditujukan kepada tetamuyang menyaksikan. Tentu saja tetamu yang terkena siraman iar basah kuyup dan ia pun secara spontan mengambil gayung dan menyiram tetamu yang belum terkena siraman. Suasana menjadi ramai dan tawa berkepanjangan.
Selesai acara mandi-mandi ini, dilanjutkan dengan lagi acara “balik tikar” dengan tata cara tertentu pula. Tepung Tawar pengantin jamuan yang di hidangkan biasanya berdentuk makan nasi “bersaprah” (makan beregu).
Pada Tepung Tawar kehamilan pertama berusia tujuh bulan yang ditepung tawari adalah si Ibu yang hamil. Pada acara Tepung Tawar kehamilan berusia atau memasuki usia sembilan bulan, Tepung Tawar ini disebut “Belenggang atau Tepung Tawar Minyak”. Sebelum ditepung tawari cara biasa, si Ibu berbaring diatas tempat tidur ber Alaskan kain batik. Seorang bidan (dukun beranak) yang telah di “tampah” lama sebelumnya mengurut-urut perut si Ibu. Selesai urutan pertama, kain batik pertama diambil demikian dilakukan sampai ketujuh kain ditarik dari alas si Ibu.
Pada saat itu, adapt Tepung Tawar Belenggang sudah jarang dilakukan. Tepung Tawar setelah si bayi berusia empat puluh hari yang kemudian dilanjutkan dengan acara “injak bumi” juga agak jarang dilakukan. Hal ini tidak dilakukan lagi mungkin disebabkan banyaknya perlrngkapan yang diperlukan, misalnya tanah yang akan diinjak si bayi haruslah tanah yang di ambil dimekah, saat orang naik haji.
C. Adat Tepung Tawar ke Depan
Bentuk aspek seni budaya dapat hilang atau mati karena kehilamhan fungsinya dalam masyarakat pendukung. Hilangnya fingsi tersebut karena factor internal dan eksternal, factor ekternal karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup membawa pengaruh dalam budaya lokal sehingga terjadi gesekan dan benturan yang berdampak negative, seperti perubahan nilai-nilai, pola piker dan pola tingkah laku dalam hidup bermasyarakat dan budaya.
A.Muin Ikram. 2004. Adat Istiadat Perkawinan Melayu Sanbas. Naskah.
Sambas : MABM Sambas.
Aghimsa. Tt. Adat Kawin Melayu Sambas. Pontianak: Yayasan Penulis 66.
Musik Dayak
Musik Dayak
By. Fitria Astuti
Editor.M.Natsir
Memahami tradisi musikal dalam budaya Dayak ibarat menyelam ke sebuah danau untuk melihat kehidupan didalamnya. Hampir mustahil melihatnya tanpa beryentuhan dengan unsur-unsur budaya lain, dan hampir mustahil juga untuk memahaminya tanpa hidup dalam nafas keseharian mereka. Musik dalam tradisi Dayak sulit dipisahkan dari kesenian lain, terutama seni tari. Bersama dengan ritus tertentu, semua itu saling berkaitan dan berhubungan erat satu sama lain.Dewasa ini banyak aspek penting dari musik tradisional Dayak telah hilang, mengalami perubahan atau pergeseran karena berbagai faktor. Aspek-aspek tersebut terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilan.Ada beberapa bagian dari musik tradisional yang kurang diperhatikan orang, misalnya alat-alat gong. Alat ini dan alat-alat musik tradisional Dayak yang lain mungkin telah menyimpan nada-nada masa lalu yang merupakan bagian dari jiwa tradisional musikal tersebut, walaupun kemungkinan perubahan karena faktor usia alat sangat besar. Melalui alat-alat tersebut dan seni vokal dan seni tutur yang dinyanyikan, nada-nada (tangga nada) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain untuk sifat dan tujuan penghadirannya, pemahaman akan hal-hal sangat penting, mengingat ‘jiwa’ musik tradisional terwujud dan menjadi ciri khas dari tujuan, sifat musik dan unsur musikalnya.
Dalam pewarisan tersebut, berbagai perubahan, pergaulan, pengaruh dan penyesuai tradisional terjadi, sampai menjadi bentuk tradisional yang dikenal sekarang ini. Kehidupan masyarakat Dayak tak terlepas dari pengaruh dan pergaulan dengan kelompok-kelompok budaya lain, baik masa jayanya kerajaan-kerajaan di nusantara, kolonialisasi bangsa-bangsa barat, maupun masa kemerdekaan. Pengaruh lain dari penerimaan ajaran resmi, kesadaran akan arti pendidikan bagi generasi muda, dan kehadiran perusahaan-perusahaan besar, telah membuat kebudayaan Dayak semakin kerap mengalami ‘ujian’.
Tulisan ini lebih merupakan deskripsi untuk memahami musik Dayak sebagai suatu tradisi dan kondisi umumnya pada saat ini. Dalam pembicaraan ini lebih sering diulas bentuk, istilah dan contoh budaya musik Dayak dari daerah Ketapang yang telah beberapa kali saya teliti.Walaupun tidak banyak hasil penelitian ilmiah yang dipublikasikan tentang musik tradisional Dayak, terutama mengenai ciri-cirinya, saya membandingkan juga beberapa tulusan-tulisan yang berhasil saya kumpulkan selama hampir empat puluh tahun belakangan ini. Dengan memiliki pemahaman yang baik dan benar diharapkan musik yang khas dan kaya ini dapat dikembangkan sebagai salah satu ciri kebudayaan Dayak.Musik tradisional Dayak merupakan salah satu aspek dari kebudayaan Dayak yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khas pada tiap kelompok. Walaupun demikian, pada setiap semua kelompok ada ciri-ciri dasar yang sama atau mirip, bahkan dengan musik kelompok masyarakat tradisional lain di Asia Tenggara.
Tradisi berladang tampaknya menjadi semacam pusat yang menentukan tradisi musik Dayak. Walaupun tidak semua kegiatan atau ungkapan musik ditujukan kepada kegiatan berladang, namun ada tradisi tertentu yang membuat ikatan tak terlepas antara kegiatan musik tersebut dengan perladangan. Kegiatan musik tradisional kebanyakan menjadi bagian dari suatu upacara, yang memerlukan biaya dari hasil ladang. Upacara-upacara besar yang banyak memerlukan biaya biasanya diselenggarakan setelah panen ladang. Didaerah Ketapang Kalimantan Barat, pesta ini adalah juga tempat untuk bermusik dan menari.Dalam kehidupan sehari-hari terdapat musik-musik yang ditampilkan bukan untuk perladangan, tetapi untuk upacara-upacara dalam siklus kehidupan. Kebanyakan musik khusus untuk ritus atau masa tertentu yang tidak boleh dimainkan pada sembarang waktu dan sangat erat hubungannya dengan sistem kepercayaan mereka.
Musik Dayak hampir tidak pernah diangkat menjadi bagian dari suatu tradisi besar seperti tradisi kraton bagian yang lebih besar dari kelompok lokal. Sifat masyarakat Dayak yang genealogis, terutama pada masa lalu menyebabkan kebudayaan berkembang dalam lingkup-lingkup kecil juga. Walau di Kalimantan ada kerajaan seperti Kutai, Brunai, Tanjung Pura, Pontianak, atau mengalami masa Kolonial, namun tradisi musik Dayak tidak pernah diangkat menjadi bagian tradisi tersebut. Hal ini menyebabkan musik tradisional Dayak masih dalam ciri komunalnya yang hidup dalam suatu tradisi kecil sampai sekarang, dan itu mungking sebabnya pengaruh asing hampir tidak dijumpai dalam musik tradisional Dayak.Dalam pewarisannya musik Dayak tidak menggunakan sistem tertulis (non-literate). Juga tidak ditemukan sistem lambang untuk permainan musiknya. Kesenian dalam tradisi Dayak lebih merupakan ungkapan kebersamaan kelompok sehingga kelanjutan kehidupannya sangat tergantung pada situasi dan kondisi mayarakat pendukung. Tentang sistem pewarisan musik tersebut Hose menulis sebagai berikut .
“at about fifteen year, or rather earlier, the boys begin to assert their independence by clubbing together with those of their own age, and taking up their sleeping guarters with the bachelor in the gallery. At an earlier age the children have picked up a number of songs and spontaneously sing them in a group, but now they begin to develop their powers of musical expression by practicing with the keluri, mouthohap, drum and gong.”(Hose,1988:64).
Beberapa ciri penting
Secara umum musik Dayak, seperti halnya dengan musik-musik tradisional lain di Asia Tenggara, didominasi oleh musik-musik perkusif. Gong merupakan alat yang paling utama dan terdapat hampir disemua kelompok Dayak. Gong tersebut ditemukan dalam beberapa tipe dan ukuran serta dipakai dalam jumlah yang bervariasi. Dikalangan Dayak paling tidak ditemukan lima tipe gong yaitu :
a. Tipe Gerantung (gong besar), gong berukuran besar, sisi rendah, nada rendah, karakter suara lembut dan beralunan panjang.
b. Tipe Tawak (gong panggil), karena gong ini biasanya digunakan sebagai alat komunikasi (pemberitahuan) apabila ada kematian, bencana, tamu, pesta dan lain-lain. Suara tegas hampir beralunan pendek dn ukurannya agak kecil. Ciri khas adalah ukuran sisi dan pencunya yang tinggi. Alat ini disebut juga ketawak, tetawak atau ogong.
c. Tipe Bondi, dengan ciri ukuran sama atau sedikit lebih kecil daripada tawak. Sisi dan pencunya rendah, permukaan sedikit pencu kebanyakan tidak ada lekukan melingkar. Suara lembut dan merdu. Disebut juga dengan nama behondi, bendai, bandai dan canang.
d. Tipe Boring (gong datar), gong dengan permukaan yang datar. Suaranya bergetar nyaring (deper). Nama-nama lainnya adalah boring-boring, gentai dan puum.
e. Tipe Kelintang (gong-gong kecil horisontal), berbeda dengan tipe-tipe terdahulu yang posisinya digantung ketika dimainkan, alat tipe ini terdiri dari beberapa satuan gong kecil (antara 5 sampai 9 satuan) yang disusun pada sebuah rak resonansi. Suara tinggi dan nyaring, dan kebanyakan berfungsi sebagai alat melodi. Disebut juga dengan nama engkeromong, keromong, kangkonang dan klentang.
Alat-alat musik logam lainnya yang masih dapat ditemukan pada beberapa kelompok, namun tidak tersebar secara merata, antara lain: Rahup (sejenis simbal kecil) dan sejenis saron. Alat-alat perkusi dari bambu, seperti tegunggak, peruncong, sengkurung, senggaung dan lain-lain.
Ciri kedua adanya teknik dengung atau drone, yaitu teknik permainan musik dimana terdapt alat bernada tertentu yang dimainkan dengan suatu ritme, sementara terdapat alat lain (ataupun alat itu sendiri) yang memaikannya melodi. Teknik dengung terdapat hampir pada semua musik tradisional Dayak. Pada musik ansambel gong, teknik ini terutama dimainkan oleh alat-alat gong yang digantung sehingga membentuk semacam ostinato. Selain itu, pada alat jenis kledi (atau keluri, kaldii, engKerurai, seredam, sompotan, dan nama-nama lainnya), sangat jelas juga dijumpai sistem dengung. Bunyi dengung yang jelas juga terdengar adalah pada musik sape, yang dihasilkan oleh dawai kedua dan seterusnya, atau oleh pasangan sape yang lain.
Dengung dapat menjadi bunyi yang kompleks karena dihasilkan oleh beberapa alat yang dimainkan dengan ritme dan nada yang berlainan. Kadang-kadang menjadi semacam melodi yang diulang-ulang. Terutama pada ansampel perkusi, bunyi ini dihasilkan oleh teknik permainan saling pengisian ritme diantara alat-alat yang dimainkan. Dalam istilah tradisionalnya disebut ngait (ngipa’, ningka’). Teknik ini juga umum dijumpai dalam permainan musik Dayak, dan kita beri istilah teknik kait. Teknik membentuk semacam kontrapung diantara alat-alat yang dimainkan.
Seorang etnomusikolog berkebangsaan Amerika, William P. Malm, mencatat bahwa sebagian besar nada dalam musik Kalimantan (Borneo) tidak berbasis pada tangga nada tradisional jawa, melainkan menggunakan tangga nada dengan lima nada yang tidak memiliki jarak nada setengah, yang disebut anhemitonic-pentatonic (Malm 1967:24). Beberapa pihak kemudian menggunakan patokan bahwa musik tradisional Dayak bertangga-nada pentatonis, seperti yang dikatakan Malm. Walaupun pendapat tersebut benar, namun ternyata juga terdapat tangga nada pentatonis dengan beberapa interval nada yang sangat dekat dengan setengah nada (hemitonic_pentatonic), dan dalam permainan (terutama pada musik sape’) tampak adanya penggabungan kedua jenis tangga nada tersebut. Ini menunjukkan bahwa musik tradisional Dayak tidaklah sederhana. Ciri musik dengan kedua tangga nada tersebut juga dituliskan oleh Ivan Polunin dan Tanya Polunin (lihat Malaysia dalam Sadie, 1980:562), walaupun tanpa penjelasan yang mendalam.
Musik Tradisional Dayak Masa Kini
Telah banyak kajian tentang keadaan dan perubahan kebudayaan Dayak pada abad ini maupun abad yang lalu. Bermacam-macam pengaruh dan dampak dari luar telah diteliti. Berikut ini akan kita lihat sebagian kecil dari perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan kehidupan tradisi-tradisi asli masyarakat Dayak, terutama yang berhubungan dengan tradisi musikalnya.
A. Pergeseran Nilai
Kesenian yang banyak dikembangkan adalah kesenian tontonan demi hiburan. Dengan demikian kesenian dapat kehilangan spiritnya yang justru menghidupi manusia sejak lama (Bdk. Popowardojo, 1989:vii). Pada banyak musik tradisional Dayak, segi spiritual maupun segi ritual merupakan hal yang kelihatan jelas. Namun sebagian kesenian Dayak dari panggung upacara tradisi dimana keterlibatan seluruh anggota komunitas adalah sangat penting, mulai menampakkan diri bergerak menuju panggung hiburan yang mengutamakan aspek estetik demi tontonan belaka. Banyaknya sanggar kesenian menunjukkan dengan jelas hal trsebut. Tanpa bisa dipungkiri, gejolak untuk mengubah atau menata bentuk ungkapan kesenian tradisional oleh kaum muda Dayak, lahir dari keinginan untuk memelihara agar nilai-nilai estetik peninggalan nenek moyang tetap hidup dan dihargai orang lain.
Selain itu ada kebosanan atau perasaan bahwa ritus tradisi musik terlalu sederhana, tidak relevan lagi dan tidak memperhatikan aspek estetik yang dimengerti secara umum, sehingga timbul keinginan untuk melakukan perubahan, walau dengan resiko penyimpangan dari sifat aslinya. Pergeseran nilai dan fungsi tadi, menurut banyak ahli, pada akhirnya tidak akan dapat ditolak atau dihindari (coomans, 1987:199).
B. Keadaan alat musik
Entah sudah berapa jenis musik tradisional Dayak telah hilang, mengalami krisis atau berubah, karena kerusakan dan kepunahan alat, perkembangan masyrakat Dayak sendiri dan pengaruh luar yang cukup kuat. Cukup banyak musik kuno Dayak yang pada saat ini berada dalam kondisi antara ada dan tiada. Didaerah Ketapang pernah dikenal alat musik dawai yang digesek, alat semacam zither dari bambu, alat jaws harp (jungkih, jinggong), beberapa alat tiup dan mungkin masih ada yang lain, yang kini tinggal cerita. Alat-alat tersebut merupakan kekayaan budaya Dayak yang telah hilang.
Keadaan alat musik menentukan pengetahuan dan teori tentang musik tradisional. Sejarah gong sebagai perangkat dalam tradisi Dayak secara pasti juga belum diketahui. Padahal alat ini menempati posisi penting didalam tradisi musikal, sosial dan ritual (lih. Sukanda, 1992). Dari beberapa hasil pengukuran terhadap gong yang telah dilakukan sampai saat ini belum didapatkan kesimpulan yang memuaskan mengenai susunan nada yang jelas dari alat-alat tersebut. Meskipun demikian, alat-alat tersebut masih dapat digunakan dan dirasa cocok. Ini juga merupakan salah satu keunikan dari musik tradisional. Asumsi bahwa pada masa lalu terdapat semacam standar musik yang sama memang harus dibuktikan dengan penelitian yang panjang. Hal ini penting, selain sebagai studi tentang sejarah masa lalu (kesenian) Dayak, adalah untuk menentukan ciri dan bentuk musik Dayak yang baik dan asli dimasa mendatang, terutama melalui pembuatan perangkat alat musik yang baru.
C. Pembangunan Ekonomi
Kesenian bagi masyarakat Dayak tradisional tidak hanya merupakan ungkapan keindahan atau ekspresi estetis semata. Melalui kesenian orang Dayak berhubungan dengan sesamanya, dengan alam dan lingkungan hidupnya serta dengan penguasa jagat raya. Oleh sebab itu, kesenian memiliki makna yang sangat mendalam. Pembangunan yang mengabaikan tradisi kesenian berarti mengabaikan kebudayaan secara utuh.
Program-program peningkatan taraf hidup masyarakat, seperti proyek terpadu Perkebunan Inti Rakyat dan transmigrasi (PIR_trans) juga akan berpengaruh pada kebudayaan Dayak, termasuk didalamnya tradisi musikal. Program itu mengabaikan sistem kebudayaan tradisional setempat yang telah mampu menghidupi orang Dayak sejak jaman dahulu (bandingkan dengan Dove, 1985:xxvii).
Hilangkan tradisi berladang secara langsung menghilangkan ritus-ritus yang berhubungan dengannya. Paling tidak dalam bentuk dan sifatnya yang asli. Sebagai contoh, terdapat proyek perkebunan terbesar di daerah Kabupaten Ketapang yang berlokasi ditengah-tengah pemukiman masyarakat Dayak yang masih sangat kuat kehidupan tradisinya. Meskipun dikatakan akan meningkatkan taraf ekonomi dan kemakmuran rakyat, perencana dan pelaksana proyek tersebut telah mengabaikan kebudayaan tradisional mereka. Tradisi berladang menjadi terdesak terutama karena lahan yang semakin sempit.
D. Pendidikan
Sistem pewarisan yang lisan (oral-tradition) menjadi semakin lemah seiring meningkatnya kesadaran akan arti pendidikan formal. Semakin tinggi tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan formal tampak dari semakin banyak kaum muda dari daerah terpencil yang melanjutkan sekolah ke kota-kota kecamatan, kabupaten dan propinsi. Dengan demikin, keterlibatan dan hubungannya dengan sitem tradisi di kampung menjadi berkurang, bahkan cenderung akan terputus. Penguasaan dan pengertian tentang tradisi masyarakatnya menjadi berkurang.
Kesenian-kesenian khas Dayak telah sering ditampilkan. Baik didaerah, diluar daerah maupun di luar negeri. Banyak pihak menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Kesenian Dayak memang telah mampu menarik minat dan perhatian orang luar karena keindahan dan kekayaanya. Sanggar-sanggar telah banyak berdiri dan tokoh-tokoh pendirirnya adalah orang-orang yang menaruh perhatian besar terhadap kesenian tradisional. Namun, apakah kehidupan tradisi musik dalam bentuk dan sifat aslinya sudah tersentuh? Atau justru terdapat sanggar kesenian yang malah menghindari ritus tradisi yang menampilkan musik? Apakah pendapat bahwa kemajuan berarti modernisasi dan meninggalkan semua yang “kuno”, animistis’, kolot’ sudah benar sehingga tidak perlu dikoreksi?
Tradisi berladang yang telah dijalani orang Dayak sejak ratusan tahun silam mungkin dapat dikembangkan menjadi ladang menetap, dengan konsep ‘in situ development’. Dengan demikian kehidupan tradisi seni akan lebih terjamin kehidupannya. Setiap kegiatan pembangunan yang baru hendaknya tidak dilaksanakan dengan tiba-tiba dan asumsi serta tuduhan negatif terhadap kebudayaan tradisional Dayak hendaknya tidak terburu-buru diberikan.
Suatu hal yang menjadi penting dalam usaha pemeliharaan musik tradisional Dayak adalah pemahaman yang integral terhadap budaya Dayak. Tetapi dewasa ini semakin sedikit orang yang dapat dan berminat memahami musik Dayak secara utuh. Pemahaman terhadap aspek budaya tardisional tersebut juga sangat penting bagi kalangan yang merencanakan dan menjalankan kebijaksanaan pembangunan agar unsur-unsur tradisi yang masih relevan tidak begitu saja dibuang.
A. Saran
Dengan adanya penjelasan tentang musikal kebudayaan Dayak tersebut, disitu telah membuktikan bahwa negara kita kaya dengan kebudayaan, oleh sebab itu kita sebagai warga negara Indonesia wajib melestarikan/mengembangkan kebudayaan kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Daya, Dahulu, Sekarang, Dan Masa Depan. Jakarta: Gramedia.
Dove, Michael R. (ed) 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Hose, Charles. 1926. Natural Man, A Record From Borneo. London: MacMillan Publisher
By. Fitria Astuti
Editor.M.Natsir
Memahami tradisi musikal dalam budaya Dayak ibarat menyelam ke sebuah danau untuk melihat kehidupan didalamnya. Hampir mustahil melihatnya tanpa beryentuhan dengan unsur-unsur budaya lain, dan hampir mustahil juga untuk memahaminya tanpa hidup dalam nafas keseharian mereka. Musik dalam tradisi Dayak sulit dipisahkan dari kesenian lain, terutama seni tari. Bersama dengan ritus tertentu, semua itu saling berkaitan dan berhubungan erat satu sama lain.Dewasa ini banyak aspek penting dari musik tradisional Dayak telah hilang, mengalami perubahan atau pergeseran karena berbagai faktor. Aspek-aspek tersebut terutama menyangkut nilai, tujuan, latar belakang dan sifat dasar penampilan.Ada beberapa bagian dari musik tradisional yang kurang diperhatikan orang, misalnya alat-alat gong. Alat ini dan alat-alat musik tradisional Dayak yang lain mungkin telah menyimpan nada-nada masa lalu yang merupakan bagian dari jiwa tradisional musikal tersebut, walaupun kemungkinan perubahan karena faktor usia alat sangat besar. Melalui alat-alat tersebut dan seni vokal dan seni tutur yang dinyanyikan, nada-nada (tangga nada) diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain untuk sifat dan tujuan penghadirannya, pemahaman akan hal-hal sangat penting, mengingat ‘jiwa’ musik tradisional terwujud dan menjadi ciri khas dari tujuan, sifat musik dan unsur musikalnya.
Dalam pewarisan tersebut, berbagai perubahan, pergaulan, pengaruh dan penyesuai tradisional terjadi, sampai menjadi bentuk tradisional yang dikenal sekarang ini. Kehidupan masyarakat Dayak tak terlepas dari pengaruh dan pergaulan dengan kelompok-kelompok budaya lain, baik masa jayanya kerajaan-kerajaan di nusantara, kolonialisasi bangsa-bangsa barat, maupun masa kemerdekaan. Pengaruh lain dari penerimaan ajaran resmi, kesadaran akan arti pendidikan bagi generasi muda, dan kehadiran perusahaan-perusahaan besar, telah membuat kebudayaan Dayak semakin kerap mengalami ‘ujian’.
Tulisan ini lebih merupakan deskripsi untuk memahami musik Dayak sebagai suatu tradisi dan kondisi umumnya pada saat ini. Dalam pembicaraan ini lebih sering diulas bentuk, istilah dan contoh budaya musik Dayak dari daerah Ketapang yang telah beberapa kali saya teliti.Walaupun tidak banyak hasil penelitian ilmiah yang dipublikasikan tentang musik tradisional Dayak, terutama mengenai ciri-cirinya, saya membandingkan juga beberapa tulusan-tulisan yang berhasil saya kumpulkan selama hampir empat puluh tahun belakangan ini. Dengan memiliki pemahaman yang baik dan benar diharapkan musik yang khas dan kaya ini dapat dikembangkan sebagai salah satu ciri kebudayaan Dayak.Musik tradisional Dayak merupakan salah satu aspek dari kebudayaan Dayak yang memiliki bentuk dan ciri-ciri khas pada tiap kelompok. Walaupun demikian, pada setiap semua kelompok ada ciri-ciri dasar yang sama atau mirip, bahkan dengan musik kelompok masyarakat tradisional lain di Asia Tenggara.
Tradisi berladang tampaknya menjadi semacam pusat yang menentukan tradisi musik Dayak. Walaupun tidak semua kegiatan atau ungkapan musik ditujukan kepada kegiatan berladang, namun ada tradisi tertentu yang membuat ikatan tak terlepas antara kegiatan musik tersebut dengan perladangan. Kegiatan musik tradisional kebanyakan menjadi bagian dari suatu upacara, yang memerlukan biaya dari hasil ladang. Upacara-upacara besar yang banyak memerlukan biaya biasanya diselenggarakan setelah panen ladang. Didaerah Ketapang Kalimantan Barat, pesta ini adalah juga tempat untuk bermusik dan menari.Dalam kehidupan sehari-hari terdapat musik-musik yang ditampilkan bukan untuk perladangan, tetapi untuk upacara-upacara dalam siklus kehidupan. Kebanyakan musik khusus untuk ritus atau masa tertentu yang tidak boleh dimainkan pada sembarang waktu dan sangat erat hubungannya dengan sistem kepercayaan mereka.
Musik Dayak hampir tidak pernah diangkat menjadi bagian dari suatu tradisi besar seperti tradisi kraton bagian yang lebih besar dari kelompok lokal. Sifat masyarakat Dayak yang genealogis, terutama pada masa lalu menyebabkan kebudayaan berkembang dalam lingkup-lingkup kecil juga. Walau di Kalimantan ada kerajaan seperti Kutai, Brunai, Tanjung Pura, Pontianak, atau mengalami masa Kolonial, namun tradisi musik Dayak tidak pernah diangkat menjadi bagian tradisi tersebut. Hal ini menyebabkan musik tradisional Dayak masih dalam ciri komunalnya yang hidup dalam suatu tradisi kecil sampai sekarang, dan itu mungking sebabnya pengaruh asing hampir tidak dijumpai dalam musik tradisional Dayak.Dalam pewarisannya musik Dayak tidak menggunakan sistem tertulis (non-literate). Juga tidak ditemukan sistem lambang untuk permainan musiknya. Kesenian dalam tradisi Dayak lebih merupakan ungkapan kebersamaan kelompok sehingga kelanjutan kehidupannya sangat tergantung pada situasi dan kondisi mayarakat pendukung. Tentang sistem pewarisan musik tersebut Hose menulis sebagai berikut .
“at about fifteen year, or rather earlier, the boys begin to assert their independence by clubbing together with those of their own age, and taking up their sleeping guarters with the bachelor in the gallery. At an earlier age the children have picked up a number of songs and spontaneously sing them in a group, but now they begin to develop their powers of musical expression by practicing with the keluri, mouthohap, drum and gong.”(Hose,1988:64).
Beberapa ciri penting
Secara umum musik Dayak, seperti halnya dengan musik-musik tradisional lain di Asia Tenggara, didominasi oleh musik-musik perkusif. Gong merupakan alat yang paling utama dan terdapat hampir disemua kelompok Dayak. Gong tersebut ditemukan dalam beberapa tipe dan ukuran serta dipakai dalam jumlah yang bervariasi. Dikalangan Dayak paling tidak ditemukan lima tipe gong yaitu :
a. Tipe Gerantung (gong besar), gong berukuran besar, sisi rendah, nada rendah, karakter suara lembut dan beralunan panjang.
b. Tipe Tawak (gong panggil), karena gong ini biasanya digunakan sebagai alat komunikasi (pemberitahuan) apabila ada kematian, bencana, tamu, pesta dan lain-lain. Suara tegas hampir beralunan pendek dn ukurannya agak kecil. Ciri khas adalah ukuran sisi dan pencunya yang tinggi. Alat ini disebut juga ketawak, tetawak atau ogong.
c. Tipe Bondi, dengan ciri ukuran sama atau sedikit lebih kecil daripada tawak. Sisi dan pencunya rendah, permukaan sedikit pencu kebanyakan tidak ada lekukan melingkar. Suara lembut dan merdu. Disebut juga dengan nama behondi, bendai, bandai dan canang.
d. Tipe Boring (gong datar), gong dengan permukaan yang datar. Suaranya bergetar nyaring (deper). Nama-nama lainnya adalah boring-boring, gentai dan puum.
e. Tipe Kelintang (gong-gong kecil horisontal), berbeda dengan tipe-tipe terdahulu yang posisinya digantung ketika dimainkan, alat tipe ini terdiri dari beberapa satuan gong kecil (antara 5 sampai 9 satuan) yang disusun pada sebuah rak resonansi. Suara tinggi dan nyaring, dan kebanyakan berfungsi sebagai alat melodi. Disebut juga dengan nama engkeromong, keromong, kangkonang dan klentang.
Alat-alat musik logam lainnya yang masih dapat ditemukan pada beberapa kelompok, namun tidak tersebar secara merata, antara lain: Rahup (sejenis simbal kecil) dan sejenis saron. Alat-alat perkusi dari bambu, seperti tegunggak, peruncong, sengkurung, senggaung dan lain-lain.
Ciri kedua adanya teknik dengung atau drone, yaitu teknik permainan musik dimana terdapt alat bernada tertentu yang dimainkan dengan suatu ritme, sementara terdapat alat lain (ataupun alat itu sendiri) yang memaikannya melodi. Teknik dengung terdapat hampir pada semua musik tradisional Dayak. Pada musik ansambel gong, teknik ini terutama dimainkan oleh alat-alat gong yang digantung sehingga membentuk semacam ostinato. Selain itu, pada alat jenis kledi (atau keluri, kaldii, engKerurai, seredam, sompotan, dan nama-nama lainnya), sangat jelas juga dijumpai sistem dengung. Bunyi dengung yang jelas juga terdengar adalah pada musik sape, yang dihasilkan oleh dawai kedua dan seterusnya, atau oleh pasangan sape yang lain.
Dengung dapat menjadi bunyi yang kompleks karena dihasilkan oleh beberapa alat yang dimainkan dengan ritme dan nada yang berlainan. Kadang-kadang menjadi semacam melodi yang diulang-ulang. Terutama pada ansampel perkusi, bunyi ini dihasilkan oleh teknik permainan saling pengisian ritme diantara alat-alat yang dimainkan. Dalam istilah tradisionalnya disebut ngait (ngipa’, ningka’). Teknik ini juga umum dijumpai dalam permainan musik Dayak, dan kita beri istilah teknik kait. Teknik membentuk semacam kontrapung diantara alat-alat yang dimainkan.
Seorang etnomusikolog berkebangsaan Amerika, William P. Malm, mencatat bahwa sebagian besar nada dalam musik Kalimantan (Borneo) tidak berbasis pada tangga nada tradisional jawa, melainkan menggunakan tangga nada dengan lima nada yang tidak memiliki jarak nada setengah, yang disebut anhemitonic-pentatonic (Malm 1967:24). Beberapa pihak kemudian menggunakan patokan bahwa musik tradisional Dayak bertangga-nada pentatonis, seperti yang dikatakan Malm. Walaupun pendapat tersebut benar, namun ternyata juga terdapat tangga nada pentatonis dengan beberapa interval nada yang sangat dekat dengan setengah nada (hemitonic_pentatonic), dan dalam permainan (terutama pada musik sape’) tampak adanya penggabungan kedua jenis tangga nada tersebut. Ini menunjukkan bahwa musik tradisional Dayak tidaklah sederhana. Ciri musik dengan kedua tangga nada tersebut juga dituliskan oleh Ivan Polunin dan Tanya Polunin (lihat Malaysia dalam Sadie, 1980:562), walaupun tanpa penjelasan yang mendalam.
Musik Tradisional Dayak Masa Kini
Telah banyak kajian tentang keadaan dan perubahan kebudayaan Dayak pada abad ini maupun abad yang lalu. Bermacam-macam pengaruh dan dampak dari luar telah diteliti. Berikut ini akan kita lihat sebagian kecil dari perubahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk dan kehidupan tradisi-tradisi asli masyarakat Dayak, terutama yang berhubungan dengan tradisi musikalnya.
A. Pergeseran Nilai
Kesenian yang banyak dikembangkan adalah kesenian tontonan demi hiburan. Dengan demikian kesenian dapat kehilangan spiritnya yang justru menghidupi manusia sejak lama (Bdk. Popowardojo, 1989:vii). Pada banyak musik tradisional Dayak, segi spiritual maupun segi ritual merupakan hal yang kelihatan jelas. Namun sebagian kesenian Dayak dari panggung upacara tradisi dimana keterlibatan seluruh anggota komunitas adalah sangat penting, mulai menampakkan diri bergerak menuju panggung hiburan yang mengutamakan aspek estetik demi tontonan belaka. Banyaknya sanggar kesenian menunjukkan dengan jelas hal trsebut. Tanpa bisa dipungkiri, gejolak untuk mengubah atau menata bentuk ungkapan kesenian tradisional oleh kaum muda Dayak, lahir dari keinginan untuk memelihara agar nilai-nilai estetik peninggalan nenek moyang tetap hidup dan dihargai orang lain.
Selain itu ada kebosanan atau perasaan bahwa ritus tradisi musik terlalu sederhana, tidak relevan lagi dan tidak memperhatikan aspek estetik yang dimengerti secara umum, sehingga timbul keinginan untuk melakukan perubahan, walau dengan resiko penyimpangan dari sifat aslinya. Pergeseran nilai dan fungsi tadi, menurut banyak ahli, pada akhirnya tidak akan dapat ditolak atau dihindari (coomans, 1987:199).
B. Keadaan alat musik
Entah sudah berapa jenis musik tradisional Dayak telah hilang, mengalami krisis atau berubah, karena kerusakan dan kepunahan alat, perkembangan masyrakat Dayak sendiri dan pengaruh luar yang cukup kuat. Cukup banyak musik kuno Dayak yang pada saat ini berada dalam kondisi antara ada dan tiada. Didaerah Ketapang pernah dikenal alat musik dawai yang digesek, alat semacam zither dari bambu, alat jaws harp (jungkih, jinggong), beberapa alat tiup dan mungkin masih ada yang lain, yang kini tinggal cerita. Alat-alat tersebut merupakan kekayaan budaya Dayak yang telah hilang.
Keadaan alat musik menentukan pengetahuan dan teori tentang musik tradisional. Sejarah gong sebagai perangkat dalam tradisi Dayak secara pasti juga belum diketahui. Padahal alat ini menempati posisi penting didalam tradisi musikal, sosial dan ritual (lih. Sukanda, 1992). Dari beberapa hasil pengukuran terhadap gong yang telah dilakukan sampai saat ini belum didapatkan kesimpulan yang memuaskan mengenai susunan nada yang jelas dari alat-alat tersebut. Meskipun demikian, alat-alat tersebut masih dapat digunakan dan dirasa cocok. Ini juga merupakan salah satu keunikan dari musik tradisional. Asumsi bahwa pada masa lalu terdapat semacam standar musik yang sama memang harus dibuktikan dengan penelitian yang panjang. Hal ini penting, selain sebagai studi tentang sejarah masa lalu (kesenian) Dayak, adalah untuk menentukan ciri dan bentuk musik Dayak yang baik dan asli dimasa mendatang, terutama melalui pembuatan perangkat alat musik yang baru.
C. Pembangunan Ekonomi
Kesenian bagi masyarakat Dayak tradisional tidak hanya merupakan ungkapan keindahan atau ekspresi estetis semata. Melalui kesenian orang Dayak berhubungan dengan sesamanya, dengan alam dan lingkungan hidupnya serta dengan penguasa jagat raya. Oleh sebab itu, kesenian memiliki makna yang sangat mendalam. Pembangunan yang mengabaikan tradisi kesenian berarti mengabaikan kebudayaan secara utuh.
Program-program peningkatan taraf hidup masyarakat, seperti proyek terpadu Perkebunan Inti Rakyat dan transmigrasi (PIR_trans) juga akan berpengaruh pada kebudayaan Dayak, termasuk didalamnya tradisi musikal. Program itu mengabaikan sistem kebudayaan tradisional setempat yang telah mampu menghidupi orang Dayak sejak jaman dahulu (bandingkan dengan Dove, 1985:xxvii).
Hilangkan tradisi berladang secara langsung menghilangkan ritus-ritus yang berhubungan dengannya. Paling tidak dalam bentuk dan sifatnya yang asli. Sebagai contoh, terdapat proyek perkebunan terbesar di daerah Kabupaten Ketapang yang berlokasi ditengah-tengah pemukiman masyarakat Dayak yang masih sangat kuat kehidupan tradisinya. Meskipun dikatakan akan meningkatkan taraf ekonomi dan kemakmuran rakyat, perencana dan pelaksana proyek tersebut telah mengabaikan kebudayaan tradisional mereka. Tradisi berladang menjadi terdesak terutama karena lahan yang semakin sempit.
D. Pendidikan
Sistem pewarisan yang lisan (oral-tradition) menjadi semakin lemah seiring meningkatnya kesadaran akan arti pendidikan formal. Semakin tinggi tingkat kesadaran akan pentingnya pendidikan formal tampak dari semakin banyak kaum muda dari daerah terpencil yang melanjutkan sekolah ke kota-kota kecamatan, kabupaten dan propinsi. Dengan demikin, keterlibatan dan hubungannya dengan sitem tradisi di kampung menjadi berkurang, bahkan cenderung akan terputus. Penguasaan dan pengertian tentang tradisi masyarakatnya menjadi berkurang.
Kesenian-kesenian khas Dayak telah sering ditampilkan. Baik didaerah, diluar daerah maupun di luar negeri. Banyak pihak menaruh perhatian terhadap hal tersebut. Kesenian Dayak memang telah mampu menarik minat dan perhatian orang luar karena keindahan dan kekayaanya. Sanggar-sanggar telah banyak berdiri dan tokoh-tokoh pendirirnya adalah orang-orang yang menaruh perhatian besar terhadap kesenian tradisional. Namun, apakah kehidupan tradisi musik dalam bentuk dan sifat aslinya sudah tersentuh? Atau justru terdapat sanggar kesenian yang malah menghindari ritus tradisi yang menampilkan musik? Apakah pendapat bahwa kemajuan berarti modernisasi dan meninggalkan semua yang “kuno”, animistis’, kolot’ sudah benar sehingga tidak perlu dikoreksi?
Tradisi berladang yang telah dijalani orang Dayak sejak ratusan tahun silam mungkin dapat dikembangkan menjadi ladang menetap, dengan konsep ‘in situ development’. Dengan demikian kehidupan tradisi seni akan lebih terjamin kehidupannya. Setiap kegiatan pembangunan yang baru hendaknya tidak dilaksanakan dengan tiba-tiba dan asumsi serta tuduhan negatif terhadap kebudayaan tradisional Dayak hendaknya tidak terburu-buru diberikan.
Suatu hal yang menjadi penting dalam usaha pemeliharaan musik tradisional Dayak adalah pemahaman yang integral terhadap budaya Dayak. Tetapi dewasa ini semakin sedikit orang yang dapat dan berminat memahami musik Dayak secara utuh. Pemahaman terhadap aspek budaya tardisional tersebut juga sangat penting bagi kalangan yang merencanakan dan menjalankan kebijaksanaan pembangunan agar unsur-unsur tradisi yang masih relevan tidak begitu saja dibuang.
A. Saran
Dengan adanya penjelasan tentang musikal kebudayaan Dayak tersebut, disitu telah membuktikan bahwa negara kita kaya dengan kebudayaan, oleh sebab itu kita sebagai warga negara Indonesia wajib melestarikan/mengembangkan kebudayaan kita sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Coomans, Mikhail. 1987. Manusia Daya, Dahulu, Sekarang, Dan Masa Depan. Jakarta: Gramedia.
Dove, Michael R. (ed) 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Dalam Modernisasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Hose, Charles. 1926. Natural Man, A Record From Borneo. London: MacMillan Publisher
Langganan:
Postingan (Atom)